Selasa, 22 September 2015

UNDANGAN SEMINAR

Hari ini aku menghadiri sebuah seminar hasil mahasiswa tingkat akhir yang berbeda dari biasanya. Sebut saja namanya mba ‘S’. Mba S adalah mahasiswa jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian angkatan 2008. Sebenarnya aku tidak begitu kenal dengan mahasiswa ini. Mba S bukanlah kawan satu kos, bukan pula rekan satu organisasi apalagi teman satu angkatan. Aku dan mba S dipertemukan dalam satu kelas pada mata kuliah Dasar Manajemen di semester dua lalu. Saat itu mba S kebetulan meminta nomer ponselku. Semenjak kejadian tersebut, dia beberapa kali mengirim SMS kepadaku. Aku mengetahui kalau mba S seminarpun karena dia sendiri yang memberi tahuku dan mengundangku melalui SMS. Kebetulan seminarnya diadakan hari Selasa pukul 08.00 yang mana jadwal kuliahku dimulai pukul 09.15. Aku sempat bingung akan datang ke seminar itu atau tidak. Semula aku berpikir tidak akan datang ke seminar mba S, tapi entah kenapa aku ragu padahal kalaupun aku tidak datang, mba S tidak akan tahu karena aku yakin dia mungkin sudah lupa dengan wajahku. Kita juga tidak pernah bertemu lagi semenjak kuliah di semester dua dulu. Namun, aku memutuskan untuk datang ke sana. Aku hanya ingin menghargai undangannya, lagi pula datang ke sebuah seminar tidak ada ruginya bukan? Malah di sana aku mungkin akan mendapatkan ilmu baru.
Ketika aku memasuki ruang seminar, ternyata belum banyak orang yang datang. Lalu aku pun memutuskan untuk duduk sembari membaca jurnal penelitiannya. Jam tangan biru di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 08.10 pagi. Molor 10 menit dari jadwal yang seharusnya. Seminar memang tidak bisa dimulai jika peserta yang datang belum memadai. Beberapa menit kemudian mahasiswa lain mulai berdatangan. Tidak berselang lama kursi-kursi sudah mulai dipenuhi oleh mahasiswa. Setelah diperkirakan cukup, seminarpun dimulai.

Tulisan ini bukan menceritakan bagaimana jalannya seminar itu melainkan aku ingin menyampaikan beberapa pelajaran yang aku dapat setelah mengikuti seminar mba S. Aku hanya ingin membaginya kepada teman-teman facebook yang mau membacanya. Semoga memberi manfaat untuk kalian. Ada beberapa hal yang ingin aku bagi kepada kalian. Pertama, sebelum seminar dimulai, aku tidak sengaja mengamati mba S yang sedang duduk dengan pandangan yang sulit diartikan. Aku mengamatinya lekat-lekat sambil berusaha menerawang apa yang ada di pikirannya. Ada dua sisi yang ada di benakku saat itu. Satu sisi, aku merasa mba S sangat senang karena seminar yang telah lama ia nantikan akhirnya bisa terlaksana, tapi di sisi lain aku merasa mba S terlihat begitu gugup dan tegang. Kalian tahu, waktu itu aku pun sempat mengukur seberapa tegang mba S ini. Mas ‘A’, katakanlah mahasiswa yang aktif di organisasi dan sukses di akademik saja terlihat gugup ketika akan seminar apalagi mba S? Aku tidak bermaksud meremehkan mba S atau apapun tetapi aku hanya ingin menceritakan apa yang ada di pikiranku saat itu. Meskipun begitu, ada satu hal yang aku kagumi dari mba S. Aku kagum dengan perjuangannya untuk kembali melakukan penelitian. Tidak semua orang bisa bertahan dan mau mulai melangkah lagi ketika penelitian yang dia lakukan menemui kegagalan. Kedua, cara mempresentasikan hasil penelitiannya bagiku masih kurang karena dia masih mengacu pada slide di power point. Tidak hanya itu, cara penyampaian materi masih belum rapi. Di situ aku berpikir ternyata ikut organisasi sangat penting. Kita bisa belajar public speaking supaya ketika seminar nanti, kita dapat menyampaikan seminar dengan baik. Penguasaan materi pun masih belum matang. Hal ini terlihat dari cara menjawab mba S yang kurang tepat sasaran dan kurang efektif. Kembali aku merenung dan bermain dengan pikiranku sendiri. Ternyata mahasiswa bukan hanya sekedar bisa memakai toga dan menjadi seorang sarjana saja tetapi ilmu yang kita dapatkan di dalam maupun di luar bangku kuliah harus benar-benar kita kuasai dan dapat diterapkan pada kehidupan masyarakat. Sebagai mahasiswa kita diharapkan berperan memajukan masyarakat di sekitar kita dan negeri tercinta.

Wisuda adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh mahasiswa namun kita tidak boleh lupa dengan apa yang kita peroleh di lingkungan kampus. Ilmu yang kita miliki harus diamalkan untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi manusia, terlebih sebagai mahasiswa fakultas pertanian. Peran kita adalah sebagai generasi penerus bangsa yang diharapkan memajukan pertanian di Indonesia. Maju terus Pertanian Indonesia.

Purwokerto, 22 September 2015.

Sabtu, 19 September 2015

Pertanian? Saya Bangga jadi Mahasiwa Pertanian!

Pertanian. Apa yang ada di pikiran kalian ketika membaca kata itu? Sawah kah? Mencangkul? Kotor-kotoran dan panas-panasan? Atau petani?. Tidak salah memang jika kalian beranggapan bahwa pertanian berkaitan dengan hal-hal tersebut. Saya pun mengakuinya, tapi pernahkah kalian memandang pertanian dari sudut yang berbeda? Pertanian juga berhubungan dengan pangan bukan? Pangan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia. Kalian pasti setuju dengan pernyataan itu bukan? Ada tiga jenis kebutuhan primer manusia yaitu sandang, papan dan pangan. Menurut kalian? Dari tiga kebutuhan ini, manakah yang paling penting? Di masa sekarang mungkin kita akan sulit mendapatkan jawabannya namun cobalah kita flasback ke masa lalu di mana nenek  moyang kita masih hidup. Pernahkah kalian berpikir kebutuhan apa yang harus mereka penuhi  terlebih dulu di masa itu? jawabannya adalah makanan. Kalau kalian tidak percaya, bisa dibuktikan dengan membuka kembali buku paket pelajaran Sejarah pada waktu SMP.
Kebutuhan akan sandang belum dianggap penting pada masa itu. Begitupun dengan tempat tinggal. Dulu nenek moyang kita tidak terlalu menggangap penting papan atau tempat tinggal. Mereka bisa  memanfaatkan gua sekadar untuk tempat beristirahat, berlindung dari hewan buas, dan menghangatkan tubuh dari cuaca dingin. Tidak jarang pula nenek moyang kita berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya yang kita kenal dengan istilah nomaden. Kalian tahu kenapa nenek moyang kita melakukan kegiatan nomaden? Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memperoleh makanan. Ketika mendiami suatu tempat apalagi di sana terdapat makanan, nenek moyang kita akan menetap di tempat itu. Mereka akan bertahan sampai persediaan makanan yang mereka miliki tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya. Setelah itu mereka akan berpindah lagi untuk mencari sumber makanan yang lain. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pangan merupakan kebutuhan yang sangat penting.
Masihkah kalian menganggap remeh para petani? Coba kalian pikir, tanpa jasa petani kalian tidak akan bisa makan nasi setiap hari. Begitupun dengan yang gemar makan mie. Bukankah mie juga berasal dari terigu yang dibuat dari gandum?. Roti pun demikian, sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan jenis-jenis makanan lainnya?. Siapa yang menghasilkan itu semua? Apakah dokter? Polisi? Tentara? Preiden? Para menteri? Bukan mereka, tapi PETANI lah yang melakukannya. Berbagai lapisan masyarakat tidak akan bisa hidup jika tidak makan. Tanpa kita sadari keberadaan petani sangat kita butuhkan. Mulai dari rakyat biasa, kalangan bawah, menengah, bahkan pejabat hingga presiden pun tidak bisa lepas dari makan nasi bukan? Apakah kita tidak malu dengan hal itu? Kalian tidak menyadarinya selama ini. Petani bekerja keras dari pagi hingga petang namun hasil yang didapat kadang tidak seberapa. Upah yang didapat masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terutama bagi petani kecil yang sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Iya, saya baru mengetahuinya setelah menuntut ilmu di Fakultas Pertanian. Saya tidak menyangka, kenyataan demi kenyataan miris dengan jelas nampak di depan mata. Semula, pengetahuan tentang dunia pertanian tidak saya miliki sama sekali. Bahkan saya menginjakan kaki ke sawah pun belum pernah. Bagaimana mungkin saya bisa berfikir untuk memasuki Fakultas Pertanian? Entahlah, saya hanya bisa mengingat kalau ada sesuatu yang menarik yang bisa didapatkan ketika masuk fakultas ini. Iya, pertanian. Bidang yang memiliki peran penting bahkan vital bagi umat manusia. Seharusnya pertanian merupakan kajian ilmu yang menduduki peringkat pertama di negeri ini. Oleh karena itu, saya bangga menjadi mahasiswa fakultas pertanian. Saya harus bisa memberikan kontribusi untuk pertanian Indonesia yang lebih baik.
Saat ini saya menuntut ilmu di fakultas pertanian pada program studi agroteknologi. Agroteknologi merupakan salah satu program studi yang berada di bawah naungan fakultas pertanian. Program studi ini belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas seperti halnya akuntansi, teknik informatika, farmasi, kedokteran dan lainnya. Hal itu dapat dibuktikan ketika saya sendiri mengatakan program studi agroteknologi, sebagian besar respon orang akan menanyakan, “Apa itu prodi agroteknologi?”. Setelah itu, saya pun menjawab “Pertanian,” orang pun baru akan mengangguk paham dan tidak bertanya lebih lanjut lagi. Entah kenapa kebanggan masyarakat tentang program studi agroteknologi masih kurang. Saya akan memberi penjelasan secara singkat mengenai program studi ini. Agroteknologi adalah jurusan yang mempelahari tentang bagaimana cara mendapatkan produksi hasil pertanian seoptimal mungkin dengan menerapkan teknologi mulai dari benih, cara penanaman, teknik budidaya, pemeliharaan, panen hingga pasca panen dengan tujuan memperoleh bahan pangan yang baik dan layak dikonsumsi oleh masyarakat. Saya merasa mempunyai tanggung jawab yang besar. Pertanian di Indonesia harus lebih baik. Indonesia punya potensi untuk hal itu. kita tidak boleh kalah dengan negara lain. Dan itu semua adalah tanggung jawab kita sebagai MAHASISWA FAKULTAS PERTANIAN. Kita adalah mahasiswa terpilih. Kita adalah generasi penerus bangsa yang harus memberikan kesejahteraan bagi para petani. Petani adalah profesi yang mulia. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” (HR. Al-Bukhari, AL-Muzaro’ah, 2320 dan Muslim, Al-Musaqoh, 3950). Dalam hadits yang lain juga dijelaskan Dari Jabir bin Abdullah ra , bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَ لاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً
“Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim Hadits no.1552).
Masihkah kalian menganggap remeh petani? Atau mengaggap sepele segala sesuatu yang berkaitan dengan pertanian di Indonesia?