Selasa, 13 Januari 2015

NADHIRA #1

Aku datang lagi... Clinngg!
Aku, Dica Prastyani. Seorang remaja yang suka menulis walaupun tulisanku pas-pasan. Bagiku menulis itu wahana menyalurkan inspirasi. Seperti sekarang, aku menulis sebuah cerpen yang biasa saja. Silahkan yang berminat monggo dibaca. Bagi yang tidak suka abaikan saja :)

Happy Reading





Genre        :  Family, Sad, Fantasy

Length       :  2.713 word



Summary  : Kau tahu rahasia adalah janji yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Apabila kita melanggarnya maka ada akibat yang harus kita terima. Semua yang terjadi pada manusia adalah takdir Tuhan.




Nadhira POV

Air mata ini kembali menetes dengan sendirinya. Meluncur bebas tanpa bisa ditahan lagi. Inilah aku,  -Nadhira- yang begitu mudahnya meneteskan air mata.  Malam ini aku habiskan waktuku membaca sebuah cerita bergenre sedih yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja. Namun bagiku cukup untuk mengucurkan air mata dengan helaian tisu yang bertebaran dimana-mana. Cerita yang aku baca malam ini berkisah tentang seorang roh yang mengenang masa lalunya. Semasa hidup dia pernah menganggap seseorang yang mendapat penyakit mematikan dimana hidupnya akan segera berakhir adalah hal yang dicibirnya. Perjuangan melawan penyakit, harus mengalah pada takdir dan menghabiskan waktunya untuk orang-orang yang di sekelilingnya hingga malaikat menjemput adalah sesuatu yang dianggapnya rekayasa semata. Hingga suatu hari sebuah karma datang menghampiri. Dia divonis penyakit yang akan membuatnya menutup usia dalam waktu dekat. Dia hanya bisa diam dan pasrah. Dia tidak merasakan apapun, baik itu sedih, kecewa, marah atau bahkan mengutuk Tuhan. Dia tidak melakukan semuanya. Tidak ada siksaan batin yang menderanya karena ia tak memiliki seseorang yang istimewa di hatinya. Hanya siksaan fisik yang cukup menyakitkan yang ia terima. Singkat cerita dalam sosok roh dia dipertemukan dengan Lisa dan Arka. Entah ada sebuah kekuatan yang seakan menariknya mengikuti pasangan muda itu. Ternyata Lisa mengidap penyakit yang sama dengannya.  Melalui Lisa, dia belajar arti kepasrahan, kesabaran dan ketidaksiapan untuk meninggalkan dunia ini. Sementara melalui Arka, dia belajar keikhlasan dan menerima sebuah kenyataan yang pahit. Dia menganggap Lisa adalah orang yang beruntung karena mempunyai Arka yang selalu berada disisinya.

Sebenarnya aku menangis bukan karena membaca cerita melainkan aku menangis karena masalah keluarga yang menghampiriku. Keadaan keluargaku masih sama bahkan lebih buruk terlebih ketika aku kembali pulang ke rumahku di Malang dalam rangka hari tenang sebelum ujian perguruan tinggi selama satu minggu. Iya, aku hanya menggunakan cerita itu sebagai media saja. Aku hanya ingin menangis. Cukup. Aku sudah merasa lelah dengan semua ini. Aku hanya ingin meringankan beban ku. Aku tidak bisa berbuat banyak melihat keadaan keluargaku. Menangis sedikit membuatku lebih tenang. Aku terlalu takut bercerita masalah ini kepada seorang teman sehingga menangis menjadi sebuah pelampiasan. Aku terdiam  memikirkan cerita yang baru saja aku selesaikan. Andai aku seperti ruh di dalam cerita mungkin aku akan bernasib sama seperti dirinya. Tidak ada orang istimewa yang akan kehilangan dirinya. Sungguh menyakitkan bukan?. Aku mengalah. Mengalah bukan berarti kalah.

“Tuhan, aku lelah dengan rasa sakit ini. Aku tahu bukan hanya aku yang merasakannya. Aku
mungkin terlalu cengeng tapi aku mohon kembalikan kebahagiaan itu, Tuhan. Bila memang aku harus
berkorban supaya semuanya bisa bersatu kembali, aku ikhlas. Aku akan menerimanya,” ujar ku di sela-sela Do’a. Aku sadar dengan apa yang aku minta. Aku siap dengan segala takdir yang akan aku terima.

***

Author POV

Angin malam menyapa dalam keheningan. Kedatangannya seolah menunjukkan sebuah perhatian. Menemani sosok gadis dengan mahkota tergerai panjang yang menyendiri di bawah kain hitam pekat yang luas membentang. Dalam hitungan detik angannya mulai terbang. Sepasang kelopak mata perlahan  menyembunyikan isinya. Bola mata indah sang gadis mulai tak terlihat lagi. Entah mendapat kekuatan dari mana, tiba-tiba sang gadis merasakan tubuhnya lebih ringan bak kapas yang terbawa oleh angin. Dia menyadari tubuhnya melayang dan tidak berpijak pada bumi lagi. Semakin tinggi, tinggi, lebih tinggi, mengikuti sapuan angin yang menghampiri.

“Kenapa ini? Apa yang terjadi pada ku?,” tanya sang gadis dengan raut yang kebingungan.

“Kenapa aku melayang seperti ini? Apakah aku telah ma...?,” sang gadis tak kuasa melanjutkan pertanyaannya. Dia belum siap untuk meninggalkan semua. Dia masih ingin berlama lagi bersama orang-orang terdekatnya.

“Hai,”

Sebuah suara datang menyapa. Namun gadis itu belum menyadarinya, lebih tepatnya tak meladeni panggilan itu karena dia berpikir panggilan barusan bukan untuknya.

“Hei, kenapa kamu diam saja? Aku memanggil mu,” ujar suara itu lagi. Gadis itu masih setia pada posisinya dan tak bergeming sedikitpun karena masih beranggapan seperti sebelumnya.

“Dhira. Nadhira Putri Amandari,”.

Nadhira adalah nama gadis itu. Orang itu mengetahui namanya bahkan nama lengkapnya.Siapa dia? Nadhira pun segera memutar badannya untuk melihat siapa sosok yang memanggilnya sedari tadi. Matanya berkeliling mencari orang asing yang telah menyapa dirinya. Hening. Tidak ada satu orang pun yang ia temui. Nadhira pun memutar tubuhnya kembali berharap ia menemukannya tetapi nihil.

“Dimana dia? Tidak ada-ada siapa disini?,”

Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak gadis itu. Nadhira pun terkejut dan segera berbalik badan. Saat ini dihadapannya berdiri sosok pemuda yang sedang mengulumkan seulas senyum tipis.
Dia sedikit tertegun, mungkin terpesona lebih tepatnya namun hanya beberapa detik saja karena banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya ingin ia lontarkan segera pada pemuda misterius didepannya.

“Siapa kamu? Dari mana kamu tahu nama ku? Apakah kita saling mengenal sebelum ini?,” tanya Nadhira sekaligus dalam satu tarikan napas. Sang pemuda justru terdiam dengan pandangan bingung mendengar pertanyaan yang Nadhira ajukan lalu tak berapa lama dia  kembali merekahkan senyumnya tetapi kali ini lebih lebar dari senyuman  yang pertama.

“Kamu lucu ya. Kamu bahkan sampai lupa dengan ketakutan mu?,” jawab sang pemuda disela senyumnya.

“Maksudmu?,” tanya Nadhira tidak mengerti.

“Kamu lupa kan saat ini sedang berada dimana?”

“Apa?!,” Nadhira pun mengamati lingkungan sekelilingnya.

Eh! Dimana ini? Kenapa semuanya gelap?

“Ahh...!! kau??,”  Gadis itu terkejut melihat tubuh sang pemuda yang mendadak mengeluarkan cahaya. Nadhira seketika pingsan dan hampir saja terjatuh jika saja pemuda itu tak bergegas menangkap tubuh mungilnya.

“Kau akan mengerti suatu saat nanti,” bisik sang pemuda lalu dalam waktu singkat ia lenyap dari tempat itu.
***

Nadhira POV

Aku mencoba membuka kedua mataku. Samar-samar cahaya mulai memasuki bola mata. Aku sempat menutup mata ku kembali karena belum terbiasa dengan intensitas cahaya yang masuk. Namun perlahan-lahan aku kembali membukanya. Dimana aku sekarang? Aku merasa tidak asing dengan tempat ini. Ternyata ini adalah kamarku dengan nuansa biru yang khas melekat di setiap sisinya.Kamar ini adalah salah satu tempat yang aku sukai tapi semenjak ngekos aku sering meninggalkan kamar ini. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi pada ku. Kenapa aku bisa berada disini? Sepertinya aku baru saja pingsan. Tubuh ku terasa dingin. Aku pun mencoba mengeratkan selimut yang menutupi tubuhku. Kepala ku terasa sakit seolah ada banyak jarum yang menancap di kepala ku. Badan ku juga terasa nyeri. Pandangan ku sedikit buram. Kalau yang satu ini mungkin karena aku tidak memakai kaca mata. Kalian tahu, sebelumnya aku tidak pernah pingsan tetapi tumben aku mengalaminya. Tidak berselang lama kakak laki-laki ku, Raffa menghampiri ku. Disana ada pancaran yang disembunyikan oleh lelaki yang terpaut lima tahun lebih tua dari ku. Aku melihatnya. Dia berusaha menyembunyikan entah apa itu saat mengetahui aku telah sadar. Aku sangat yakin dengan tingkahnya.

“Eh, kamu sudah sadar ya,” ujarnya basa-basi.

“Aku kenapa kak? Apa yang terjadi pada ku?” tanya ku langsung tanpa basa-basi.

“Kamu semalam pingsan. Bagaimana kondisimu sekarang?,” ujarnya, kemudian kak Raffa menyentuh kening ku dan mengganti kain kompres yang baru aku sadari keberadaanya.

“Suhu badan mu masih lumayan tinggi,”

Setelah mengompres ku kembali ia pun bangkit dari duduknya.

“Istirahat yang cukup ya, supaya kondisimu cepat pulih,”

Kak Raffa pun keluar dari kamar ku tanpa berlama-lama. Ini justru menambah keyakinan ku untuk asumsi sebelumnya. Tunggu, aku melihat ekspresi itu kembali ketika kak Raffa menutup pintu. Apa yang terjadi ?

***
Author POV

Langit telah kembali menunjukkan warna kelamnya. Sang surya sudah lenyap tak bersisa pun semburat oranye yang senantiasa menghiasi angkasa. Nadhira masih setia di dalam kamarnya, walaupun sempat beberapa kali keluar kamar. Itu pun untuk buang air saja. Pada saat Nadhira ingin makan ibunya juga menyiapkan makanan untuk sang anak lalu membawanya kamar. Melihat kelakuan sang ibu Nadhira pun curiga. Apa yang terjaadi pada dirinya? Dia enggan bertanya macam-macam pada bu Naima, ibunya. Apapun titah ibunya saat ini dengan patuh ia turuti.

“Tik, tok, tik, tok...” suara denting jam dinding kamar terdengar menggema. Waktu menunjukkan pukul 10.08 malam. Hari sudah semakin larut tetapi Nadhira belum beranjak ke alam mimpi. Dia memandangi langit malam yang terlihat dari balik jendela yang sengaja ia buka. Angannya masih memikirkan peristiwa malam lalu. Peristiwa yang menurutnya hanyalah mimpi. Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara samar-samar.

“Air panas sudah kamu sediakan buat aku mandi?,”

“Air panas? Memangnya kamu minta air panas?,” tanya bu Naima.

“Tadi kan aku sudah memberitahu Dhira lewat sms, apa kamu tidak diberitahu dia?,”

“Kenapa harus ke nomer Dhira?. Aku juga ada ponsel. Lagian kenapa jam segini kamu baru pulang?,”

“Ada pertemuan dengan...”

“Dengan siapa? Dengan si Mona?,”

“Jaga mulutmu ya?,”

Nadhira berusaha menutup kedua telinganya. Dia bosan mendengar pertengkaran mereka. Dia butuh ketenangan di rumah ini bukan malah sebaliknya. Orang tua nya tidak pernah memahami kondisinya dan Raffa. Sekali bicara mereka pasti akan bertengkar. Kalaupun diam mereka bahkan bisa seperti orang asing yang tinggal dalam satu rumah. Nadhira memutuskan pergi keluar melalui jendela kamarnya walaupun tubuhnya masih lemah. Kepalanya juga masih sangat sakit. Dia justru akan semakin tersiksa jika terus mendengar pertengkaran mereka. Ia lebih rela menahan rasa sakit di fisiknya dari pada harus menahan sakit batin seperti sekarang. Saat ini ia ingin pergi menjauhi pertengkaran orang tuanya. Dia memutuskan duduk di sebuah bangku taman yang berada tak jauh dari kompleks rumahnya. Komplek perumahan Bantaran Barat Malang mempunyai sebuah taman yang cukup menarik. Walaupun ukurannya tidak terlalu luas namun tata letaknya sungguh mengagumkan. Nadhira menyukai tempat ini. Dia akan singgah disini jika pikirannya sedang kalut.
Kenapa aku harus mengalami ini? Dari kecil sampai sekarang aku tidak bisa bahagia seperti orang lain. Nadhira bingung dengan sikap ayah ibunya. Nadhira tahu kalau hubungan mereka sudah tidak harmonis tetapi mereka tetap saja bersatu. Nadhira bukannya tidak bersyukur karena masih mempunyai orangn tua yang lengkap tetapi dia tersiksa mendengar perdebatan mereka. Nadhira bahkan tahu alasannya pula. Itu pun karena saat ia tak sengaja menguping pembicaraan sang ayah dengan seseorang di telepon. Kalau ayahnya berusaha tetap bersama ibunya walaupun tidak harmonis dikarenakan anak-anak mereka –Raffa dan Nadhira-. Nadhira mendengarnya sendiri di tengah malam. Dia mendengar pengakuan itu. Kejujuran bahwa keluarganya tidak bisa kembali seutuhnya. Keluarganya bersatu namun sebenarnya telah bercerai. Keadaan yang justru menyiksa batinnya. Bayangkan saja mereka memberikan harapan palsu pada Nadhira. Mereka tidak jujur pada diri sendiri. Mereka menyiksa batin mereka selama ini. Nadhira yang mengetahuinya menjadi semakin merasa bersalah. Kadang Nadhira sempat berfikir, mungkin jika keluarganya telah berpisah akan lebih baik dari pada sekarang walau sama menyakitkan. Tapi setidaknya ayah akan bahagia dengan orang lain. Ibunya tidak merasakan sakit lagi. Dan perpisahan itu nyata sehingga Nadhira lebih bisa menerima semuanya. Bukan semua seperti keluarganya.

Angin semilir membelai lembut paras cantik gadis itu. Udara malam yang dingin cukup membuat Nadhira mempererat jaket yang ia kenakan. Tanpa Nadhira sadari dibelakangnya muncul sosok pemuda malam lalu. Pemuda yang menurutnya berada di alam mimpi namun saat ini ia sedang mengamati Nadhira dalam diam. Nadhira tak sadar dengan kehadiran sang pemuda. Sebenarnya memang pemuda itu sengaja membuat Nadhira tak menyadari kedatangannya. Dia hanya ingin mengawasi keadaan gadis itu sekarang. Andai saja waktu dapat dihentikan mungkin pemuda itu sudah menghentikan waktu supaya dia bisa selalu memandangi wajah polos gadis malang di hadapannya. Nadhira adalah gadis yang malang karena permohonannya yang kurang pantas telah dikabulkan. Dia adalah manusia yang dititipkan pada pemuda itu. Sebut saja nama pemuda itu adalah Alvan. Alvan ditugaskan untuk menjaganya sebelum dia membawa Nadhira pergi.

***

“Dhira ..kamu sudah bangun?,”

Raffa mengetuk pintu kamar adiknya. Namun tidak ada sahutan dari dalam.

“Ra, kakak masuk ya?,” Raffa pun langsung memutar knop pintu kemudian mendorong benda berwarna cokelat di depannya itu. Kosong, tidak ada siapapun di kamar Nadhira. Raffa pun panik mendapati sang adik tak ada di kamar. Matanya segera tertuju pada jendela kamar yang terbuka. Tanpa pikir panjang Raffa pun segera keluar dari kamar. Dia langsung tahu keberadaan adiknya sekarang. Adiknya pasti pergi ke tempat itu. Sesampainya di taman yang berada tidak jauh dari komplek Raffa semakin bergegas menghampiri Nadhira karena ia menyadari adiknya dalam keadaan yang tidak baik. Nadhira kembali pingsan.

“Dhira, bangun. Kenapa kamu bisa sampai disini?,” Raffa pun menyentuh kening Nadhira. Dia terkejut merasakan suhu tubuh adiknya.

“Suhu badan mu panas sekali,” sahut Raffa dengan panik. Raffa pun langsung mengangkat tubuh lemas Nadhira dan segera membawanya pulang. Saat ini angan Nadhira sedang berada di dimensi lain yang entah berada dimana. Dia merasa dirinya berkelana di alam mimpi kembali. Semuanya berwarna biru muda. Tempat itu sangat luas seolah-olah tak ada ujung yang pasti, hawanya begitu menenangkan tidak panas tetapi juga tidak dingin. Nadhira merasa sehat, tidak seperti kemarin. Dia tidak merasakan kepala yang sakit, tubuh yang menggigil atau hawa yang tidak enak seperti saat di kamar. Nadhira menyukai tempat ini. Gadis dengan rambut sepunggungnya itu mulai menapakkan kakinya secara perlahan-lahan. Dia hanya mengikuti langkah kaki yang entah akan membawanya ke mana. Tempat ini begitu sepi.

“Hei,”

Sebuah suara menginterupsi Nadhira tetapi tidak ada satu orang pun yang ia temui. Langkah kaki Nadhira segera terhenti setelah menyadari ada suara yang menyapanya. Tiba-tiba sesosok pemuda muncul dihadapannya.

“Ahh!”

Pekik Nadhira karena terkejut. Pemuda yang muncul tiba-tiba di depan Nadhira sedikit merasa bersalah karena kedatangannya membuat Nadhira terkejut. Pemuda itu tak lain adalah Alvan.

“Eh, Maaf ya. Aku tak bermaksud membuat mu kaget seperti tadi. Aku hanya ingin
menemuimu saja tapi gara-gara sikap ku yang gegabah jadi seperti ini. Sekali lagi maaf ya,”

“Iya, iya, gak.. apa-apa.. kok,” jawab Nadhira gugup.

Seketika Nadhira merasakan hal aneh melihat Alvan di hadapannya. Dia merasa tidak asing lagi bertemu dengan Alvan. Nadhira pun berusaha memutar memorinya tentang Alvan. Namun sayangnya otak Nadhira sedang enggan bekerja sama sekarang.

“Ayo ikut aku!,” Alvan menarik tangan Nadhira dengan tiba-tiba.

“Eh, kita mau kemana?,”

Nadhira merasa dirinya seolah menghilang dan dalam hitungan detik kemudian  dia berada di tempat yang berbeda walaupun sepertinya masih di wilayah yang sama. Nadhira melihat sebuah bangku berwarna putih. Tidak jauh dari bangku terlihat ada sebuah ayunan yang terpasang disana. Melihat ayunan yang berada tidak jauh darinya membuat Nadhira segera ingin naik ke ayunan tersebut.

“Ayo, kita duduk di bangku itu,” ajak Alvan. Mereka melangkah mendekati bangku yang nampaknya terbuat dari besi. Setelah sampai Alvan tak perlu berlama untuk menjatuhkan pinggulnya ke arah kursi.

“Dhira, duduk disini,”

“Ehmm... bolehkah aku duduk di ayunan itu? Aku ingin menaiki ayunan,” pinta Nadhira dengan takut-takut.
“Tentu saja. Kamu boleh duduk di ayunan itu,” jawab Alvan dengan nada yang tulus.

“Terima kasih,” seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, ekspresi Nadhira tak jauh berbeda dengan itu.

“Dhira, kau tidak penasaran dengan nama ku? Kau tidak ingin tahu siapa aku?,” pertanyaan Alvan sontak membuat Nadhira mengalihkan perhatiannya.

Kesadarannya seakan kembali. Semula memang dia penasaran dengan pemuda yang bersamanya namun dia merasa Alvan orang yang baik dan tidak akan melakukan hal-hal yang aneh terhadap dirinya. Jadi, dia merasa tidak perlu tahu namanya. Tiba-tiba...

“Kamu? Aku ingat sekarang. Kamu yang menemuiku saat malam itu kan? Siapa sih kamu
Sebenarnya? Apa maumu? Bagaimana kau tahu namaku bahkan nama lengkap ku? Kenapa
kau menemuiku lagi sekarang? Dari...,”

“Hei, cukup, cukup,” Alvan langsung memotong rentetan pertanyaan yang Nadhira ajukan.

“Aku akan menjelaskannya Dhira, tenang saja,”

“Ayo cepat katakan!,”

“Tapi, ada beberapa hal yang tidak boleh kau ketahui sebagai manus..,”

Alvan sedikit keceplosan dan hampir membuka rahasianya.

“Apa maksudmu? Bukankah kau manusia juga?,”

“Maksudku. Iya, intinya aku tidak bisa memberitahu beberapa hal yang sifatnya rahasia. Kau tahu kan
rahasia adalah janji yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Apabila kita melanggarnya maka ada
akibat yang harus kita terima, bukankah begitu Dhira?,”

Nadhira hanya bisa terpaku mendengarnya. Kedua pasang mata saling beradu satu sama lain. Alvan mengunci sorot mata Nadhira ke dalam matanya. Alvan sedang mencoba mengendalikan emosi Nadhira secara perlahan supaya gadis dihadapannya sedikit melupakan kata-katanya yang hampir kelepasan tadi.

“Nama ku Alvan... Kamu... anggap saja  aku sebagai seorang teman. Sebenarnya aku sama saja kok
dengan mu. Kita sama, Dhira. Kau tahu? Aku berada disini karena sebuah takdir. Bukan karena
keinginanku ataupun yang lain. Meskipun ini bukanlah kemauanku tetapi sebuah takdir akan tetap
berjalan tanpa bisa dikendalikan oleh kita, kecuali ada sebuah keajaiban yang ikut berperan serta,”

Nadhira hanya diam dan tak menimpali sedikitpun. Dia meresapi ucapan demi ucapan Alvan.

“Iya, dugaanmu memang benar. Aku adalah orang yang sama pada malam itu. Ingat, semuanya adalah
takdir yang harus kau jalani dan tidak perlu kau tanyakan,”

“Maksudmu?,” Nadhira pun mulai membuka suara.

“Semua yang terjadi pada manusia adalah takdir Tuhan. Kamu pasti tahu kan ada dua jenis takdir di dunia
ini. Pertama, takdir yang tidak abadi artinya manusia masih bisa mengubah takdir itu dengan usahanya.
Kedua, takdir abadi yaitu takdir yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah lagi. Lagian kau yang
memintanya sendiri bukan?,”
Alvan mengurai senyum ke arah Nadhira.

“Oke, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi,”


***

Kamis, 01 Januari 2015

HARAPAN dibalik sebuah NAMA


Nama adalah sebuah do’a yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Nama tersebut diharapkan menjadi cerminan dari diri sang anak kelak setelah dewasa. Begitu pula dengan namaku. Semula aku tidak mengetahui makna dari namaku. Dulu aku tidak begitu peduli dengan arti nama ini. Awalnya aku berpikir kalau nama hanyalah rentetan huruf yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk kata-kata sebagai nama untuk mempermudah memanggil seseorang. Cukup, hanya itu yang aku tahu. Hingga sampai pada suatu hari aku pun bertemu dengan orang yang menanyakan arti dari namaku ini. Saat itu tentu aku bingung dan tidak bisa menjawabnya. Aku pun mulai bertanya pada diriku sendiri. Apakah namaku mempunyai makna? Lalu apa arti dan filosofi dari namaku ini?. Seiring berjalannya waktu aku semakin banyak bertemu orang. Aku pun semakin suka mengamati nama-nama mereka. Ternyata nama-nama mereka sungguh indah dan setiap kali diminta menjelaskan maknanya pasti mereka dapat menjawabnya dengan lancar.  Sejak saat itu aku mulai merasa penasaran dengn arti namaku sendiri.

Orang tua ku tidak pernah membahas masalah ini sehingga aku tidak peduli dengan istilah makna dan filosofi dari sebuah nama. Namun lambat laun aku menjadi penasaran sendiri dengan arti namaku. Siapa tahu makna dari nama ku indah dan membuat ku menjadi termotivasi dalam menjalani kehidupan ini. Sebelum aku memberitahu  arti dari namaku, aku ingin berbagi sedikit kisah dengan kalian.  Kalian tahu? Namaku termasuk ke dalam nama yang panjang. Pada umumnya nama orang terdiri dari dua atau tiga kata. Sementara namaku terdiri dari empat kata dengan jumlah huruf sebanyak 28 (Banyak kan?). Hal paling mengesalkan yang sering aku alami adalah setiap kali menjadi murid pada saat kenaikan kelas kemudian diharuskan menjawab nama lengkap. Awal mulanya seperti ini kawan J, setiap kali ujian kalian pasti mengetahuinya kalau identitas nama pasti tidak akan pernah tertinggal. Dikarenakan namaku yang panjang, aku pun tidak dapat menuliskan namaku secara lengkap. Sebelum berlanjut lebih jauh, aku akan memberitahu pada kalian nama lengkap ku. Nama ku adalalah Nuning Dwi Cahya Prastyaningsih. Bagaimana? Ada yang bisa mengulanginya tanpa melihat tulisan ini? Pasti kesulitan kan? Kalaupun bisa aku yakin kalian akan mengalami kesulitan pada kata terkahirnya. Jadi, setiap kali ujian aku hanya menuliskan nama ku hanya Nuning Dwi Cahya .P, cukup sampai bagian ini. Hal tersebut dikarenakan tempat nya yang kurang panjang sehingga namaku tidak bisa ditulis secara lengkap (hee.. Eh, nama ku juga sih yang keterlaluan). Oleh karena itu di dalam buku absen nama ku pun hanya tertulis Nuning Dwi Cahya .P, lalu setiap orang yang baru mengenal ku pasti akan menanyakan hal yang sama. “ ‘P’ nya apa sih?”. Entah sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan yang sama. Rasanya aku ingin meneriakan jawaban dari pertanyaan tersebut kepada semua orang di seluruh penjuru dunia supaya mereka tidak perlu bertanya lagi.

Dan sekarang aku sudah tahu makna dari nama ku. Ternyata itu menyenangkan. Nama yang aku sandang selama lebih dari 19 tahun meempunyai makna yang indah. Semula aku pikir tidak ada hal yang istimewa dari nama ini. Baiklah, tidak perlu berlama-lama di bawah ini adalah makna dari setiap kata yang terkandung dari nama pemberian bapak dan ummy ku.
1.    Nuning, artinya adalah melihat kebaikan (Bagus ya? Aku gak nyangka lho.)
2.    Dwi, artinya adalah anak kedua. (Aku memang anak yang kedua dan kakak ku itu cowok lho)
3.    Cahya, artinya sinar, cahaya (Wahh... bisa menerangi di kala gelap dong J)
4.    Prastyaningsih, prastya yang berarti berjanji, bersumpah sedangkan ningsih artinya dalam kasih, dalam cinta (Setelah mengetahui makna dari nama ku yang ini aku jadi mengurungkan niatku untuk menghilangkan nama bagian ini. Walaupun kadang nama ini berwujud dalam singkatan ‘P’ tetapi maknanya bagus juga)
Jadi, jika semua digabungkan filosofi dari namaku yaitu Anak kedua yang diharapkan dapat melihat kebaikan dengan cahaya janji dan sumpahnya dan memberikan cinta dan kasih kepada semua orang.

Bagaimana ?? bagus bukan? Bagaimana dengan nama kalian? Apakah kalian sudah menegetahui arti dan filosofi nama kalian?