Sabtu, 19 September 2015

Pertanian? Saya Bangga jadi Mahasiwa Pertanian!

Pertanian. Apa yang ada di pikiran kalian ketika membaca kata itu? Sawah kah? Mencangkul? Kotor-kotoran dan panas-panasan? Atau petani?. Tidak salah memang jika kalian beranggapan bahwa pertanian berkaitan dengan hal-hal tersebut. Saya pun mengakuinya, tapi pernahkah kalian memandang pertanian dari sudut yang berbeda? Pertanian juga berhubungan dengan pangan bukan? Pangan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia. Kalian pasti setuju dengan pernyataan itu bukan? Ada tiga jenis kebutuhan primer manusia yaitu sandang, papan dan pangan. Menurut kalian? Dari tiga kebutuhan ini, manakah yang paling penting? Di masa sekarang mungkin kita akan sulit mendapatkan jawabannya namun cobalah kita flasback ke masa lalu di mana nenek  moyang kita masih hidup. Pernahkah kalian berpikir kebutuhan apa yang harus mereka penuhi  terlebih dulu di masa itu? jawabannya adalah makanan. Kalau kalian tidak percaya, bisa dibuktikan dengan membuka kembali buku paket pelajaran Sejarah pada waktu SMP.
Kebutuhan akan sandang belum dianggap penting pada masa itu. Begitupun dengan tempat tinggal. Dulu nenek moyang kita tidak terlalu menggangap penting papan atau tempat tinggal. Mereka bisa  memanfaatkan gua sekadar untuk tempat beristirahat, berlindung dari hewan buas, dan menghangatkan tubuh dari cuaca dingin. Tidak jarang pula nenek moyang kita berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya yang kita kenal dengan istilah nomaden. Kalian tahu kenapa nenek moyang kita melakukan kegiatan nomaden? Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memperoleh makanan. Ketika mendiami suatu tempat apalagi di sana terdapat makanan, nenek moyang kita akan menetap di tempat itu. Mereka akan bertahan sampai persediaan makanan yang mereka miliki tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya. Setelah itu mereka akan berpindah lagi untuk mencari sumber makanan yang lain. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pangan merupakan kebutuhan yang sangat penting.
Masihkah kalian menganggap remeh para petani? Coba kalian pikir, tanpa jasa petani kalian tidak akan bisa makan nasi setiap hari. Begitupun dengan yang gemar makan mie. Bukankah mie juga berasal dari terigu yang dibuat dari gandum?. Roti pun demikian, sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan jenis-jenis makanan lainnya?. Siapa yang menghasilkan itu semua? Apakah dokter? Polisi? Tentara? Preiden? Para menteri? Bukan mereka, tapi PETANI lah yang melakukannya. Berbagai lapisan masyarakat tidak akan bisa hidup jika tidak makan. Tanpa kita sadari keberadaan petani sangat kita butuhkan. Mulai dari rakyat biasa, kalangan bawah, menengah, bahkan pejabat hingga presiden pun tidak bisa lepas dari makan nasi bukan? Apakah kita tidak malu dengan hal itu? Kalian tidak menyadarinya selama ini. Petani bekerja keras dari pagi hingga petang namun hasil yang didapat kadang tidak seberapa. Upah yang didapat masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terutama bagi petani kecil yang sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Iya, saya baru mengetahuinya setelah menuntut ilmu di Fakultas Pertanian. Saya tidak menyangka, kenyataan demi kenyataan miris dengan jelas nampak di depan mata. Semula, pengetahuan tentang dunia pertanian tidak saya miliki sama sekali. Bahkan saya menginjakan kaki ke sawah pun belum pernah. Bagaimana mungkin saya bisa berfikir untuk memasuki Fakultas Pertanian? Entahlah, saya hanya bisa mengingat kalau ada sesuatu yang menarik yang bisa didapatkan ketika masuk fakultas ini. Iya, pertanian. Bidang yang memiliki peran penting bahkan vital bagi umat manusia. Seharusnya pertanian merupakan kajian ilmu yang menduduki peringkat pertama di negeri ini. Oleh karena itu, saya bangga menjadi mahasiswa fakultas pertanian. Saya harus bisa memberikan kontribusi untuk pertanian Indonesia yang lebih baik.
Saat ini saya menuntut ilmu di fakultas pertanian pada program studi agroteknologi. Agroteknologi merupakan salah satu program studi yang berada di bawah naungan fakultas pertanian. Program studi ini belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas seperti halnya akuntansi, teknik informatika, farmasi, kedokteran dan lainnya. Hal itu dapat dibuktikan ketika saya sendiri mengatakan program studi agroteknologi, sebagian besar respon orang akan menanyakan, “Apa itu prodi agroteknologi?”. Setelah itu, saya pun menjawab “Pertanian,” orang pun baru akan mengangguk paham dan tidak bertanya lebih lanjut lagi. Entah kenapa kebanggan masyarakat tentang program studi agroteknologi masih kurang. Saya akan memberi penjelasan secara singkat mengenai program studi ini. Agroteknologi adalah jurusan yang mempelahari tentang bagaimana cara mendapatkan produksi hasil pertanian seoptimal mungkin dengan menerapkan teknologi mulai dari benih, cara penanaman, teknik budidaya, pemeliharaan, panen hingga pasca panen dengan tujuan memperoleh bahan pangan yang baik dan layak dikonsumsi oleh masyarakat. Saya merasa mempunyai tanggung jawab yang besar. Pertanian di Indonesia harus lebih baik. Indonesia punya potensi untuk hal itu. kita tidak boleh kalah dengan negara lain. Dan itu semua adalah tanggung jawab kita sebagai MAHASISWA FAKULTAS PERTANIAN. Kita adalah mahasiswa terpilih. Kita adalah generasi penerus bangsa yang harus memberikan kesejahteraan bagi para petani. Petani adalah profesi yang mulia. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya “Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” (HR. Al-Bukhari, AL-Muzaro’ah, 2320 dan Muslim, Al-Musaqoh, 3950). Dalam hadits yang lain juga dijelaskan Dari Jabir bin Abdullah ra , bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallambersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَ لاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً
“Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim Hadits no.1552).
Masihkah kalian menganggap remeh petani? Atau mengaggap sepele segala sesuatu yang berkaitan dengan pertanian di Indonesia?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar