Minggu, 15 Maret 2015

NADHIRA #3 END

Holla... maaf nih baru bisa ngepost lanjutan cerbungnya. Pokoknya aku minta maaf banget yang sebesar-besarnya ya buat yang nungguin soalnya tiap kali mau post error mulu, ya jadi aku batalin terus deh. Oke, ini adalah part akhirnya alias Part end nya. Monggo dibaca buat yang minat :D


Genre        : Family, Sad, Fantasy

Length      : 1.430 word

Summary :  Mulai dari ibu. Wanita hebat yang sudah berjasa banyak untuk Nadhira selama 19 tahun. Wanita yang sangat Nadhira sayangi. Seorang wanita yang kuat, sabar, tak pernah mengeluh menghadapi sikap Nadhira. Ayahnya, pria paruh baya yang sejak kecil Nadhira kagumi. Nadhira selalu bercita-cita menjadi seperti sang ayah yang mempunyai semangat baja. Pria yang tak pernah menyerah, pria yang selalu membuat suasana rumah menjadi berwarna. Raffa, kakak laki-laki yang Nadhira banggakan. Kakak yang selalu siap membantunya kapanpun ia minta. Kakak yang selalu ia repotkan. Kakak yang bisa membuatnya tertawa lepas. Kakak yang kadang selalu dibanding-bandingkan dengannya. Kakak yang selalu menampakan tawa dihadapannya meskipun Nadhira tahu ia sedang menghadapi banyak masalah. Kakak yang The Best untuk Nadhira. Mereka bertiga menampakan ekspresi yang sama, sedih.

Happy Reading . . .


***

“Alvan...,” ujar Nadhira setelah tangisnya reda.

“Aku minta maaf. Aku minta maaf karena telah menyalahkanmu. Aku...,” Alvan menyentuh bibir Nadhira dengan jarinya untuk membuat gadis itu berhenti bicara.

“Aku sudah memaafkannya. Semua nya. Aku yang harusnya minta maaf,” tukas Alva.

“Makasih. Aku juga berterima kasih sama kamu. Berkat ini, orang tuaku kembali. Mereka saling menguatkan. Mereka kembali sadar terutama ayah. Makasih banyak ya tapi bolehkah aku meminta sesuatu?,” jawab Nadhira dengan ekspresi yang sedikit menegang.

“Kau tahu kan umurku ini tidak lama lagi. Bolehkah aku meminta sedikit waktu lagi supaya bisa
merasakan kebahagian bersama keluargaku. Sebentar saja, sebelum aku pergi meninggalkan
mereka?,” tambah Nadhira dengan tutur kata yang sepolos mungkin.

Alvan tertegun. Dia bingung harus melakukan apa? ia tidak punya kuasa untuk melakukan hal seperti itu, kecuali...

Flasback

“Kau ditugaskan menjemput gadis bernama Nadhira binti Tama. Seperti biasa, ada dua hal yang harus kau ingat. Pertama. Kau harus mengatakan semua takdir tentang dirinya. Kedua, kau harus membawanya saat ia sudah bisa mengikhlaskan diri. Jangan bawa dia dalam keadaan terpaksa,”

“Jika dia belum siap bagaimana?,”

“Tenang saja. Kau tidak perlu khawatir. Dia gadis yang baik dan kuat. Dia pasti bisa menerima
semuanya. Oh ya, bawa benda ini,”

“Kristal harapan?,”

“Gunakan kristal itu jika kamu membutuhkannya. Ingat benda itu hanya bisa digunakan sekali
saja. Jadi manfaatkan sebaik mungkin,”

Flasback End.

Alvan menghela napas sejenak

“Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu kali ini,”

***

Kehidupan Nadhira kembali. Dia dapat merasakan kebahagiaan yang dulu ia impikan di tengah keluarganya. Walaupun dia tahu tidaklah lama. Beberapa hari yang lalu dokter mengatakan kalau bakteri dan virus yang meracuni darahnya jumlahnya berkurang seketika bahkan bisa dikatakan bersih. Dia merasa kembali sehat. Nadhira menjalani sisa hidupnya dengan baik. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang telah dia dapat. Dia juga ingin membuat orang di sekitarnya bangga karenanya. Kemarin dia baru saja menyerahkan novel hasil tulisannya ke tangan penerbit. Sudah lama ia menulis novel itu namun ia urung mencoba menyerahkannya. Saat ini barulah ia berani. Novel itu menceritakan tentang kesedihan yang ia alami menyangkut masalah keluarga namun akhir kisah nya sangat manis seperti yang ia rasakan.

1 bulan kemudian...

Hari masih pagi. Jam di ruang keluarga juga baru menunjukan pukul 07.30 namun seorang gadis berambut panjang telah terlihat bersiap dengan sebuah dress selutut berwarna biru muda, warna kesukaannya. Rambut panjangnya dikucir rapi. Sebuah aksesori rambut berbentuk kepala tokoh robot kucing dari Jepang alias Doraemon mempermanis penampilannya. Polesan make up tipis dan sedikit lip ice warna pink membuat rona wajah nya menampakkan kecantikan yang alami. Tas selempang berwarna biru tua sudah bertengger di pundaknya. Sepatu flat berwarna senada dengan dress yang dikenakan melengkapi penampilannya pagi ini.

“Buruan dong kak. Dandannya lama banget. Aku aja yang cewek udah siap masa kakak cowok
 lama sih,” goda Nadhira.

“Bentar lagi dek. Kamu juga sih tadi mandinya keterlaluan. Air satu bak diabisin. Kakak kan mesti nunggu air dulu,” kilah Raffa yang tidak mau disalahkan sama adiknya. Suaranya sedikit lirih karena Raffa masih ada di dalam kamarnya.

“Makanya bangunnya jangan kesiangan. Salah kakak sendiri dong,” balas Nadhira cepat.

“Yang butuh kan kamu. Harusnya kamu tuh bangunin kakak. Kalo kakak gak ada, siapa yang
mau nganterin?,” gurau Raffa.

“Udah, kalian ini, pagi-pagi sudah ribut. Memangnya mau kemana sih kalian? Putri ibu yang
ini juga sudah rapi begini? mau kemana Dhira?,” tanya Ibu Naima yang tiba-tiba sudah berada di samping Nadhira. Mendengar pertanyaan sang ibu, Nadhira hanya bisa menunjukkan sebuah cengiran khasnya yang menurut sang ibu sangat menggemaskan.

“Ihh, ditanya kok malah nyengir sih,” sembari mencubit pipi cabi Nadhira dengan gemas.

“Rahasia. Pokoknya nanti ada kejutan buat kalian,”

“Kok gitu sayang. Main rahasia-rahasiaan sama ibu,”

“Tenang aja bu. Nadhira bakalan ngasih hadiah spesial buat ibu, ayah, kakak dan orang-orang
yang sayang sama Dhira,”

“Ayo, dek. Kakak udah siap,”


Tidak lama mereka langsung berangkat menuju perusahaan penerbit yang hari ini akan menyetujui novel karya Nadhira. Hari ini adalah tanda tangan kontrak antara Nadhira dengan pihak penerbit sekaligus buku pertama yang sudah dicetak akan diperlihatkan. Nadhira merasa sangat senang. Ini adalah buku pertamanya. Ini adalah impiannya sejak kecil, bisa memiliki buku sendiri. Dia ingin karyanya disukai para pembaca.

“Selamat mba Nadhira. Dengan ini artinya mba sudah menyetujui semua perjanjian ini. Senang bisa bekerja sama dengan anda,”

“Iya. Sama-sama pak. Saya pun merasa sen..,”

Tiba-tiba Nadhira kembali merasakan nyeri yang amat sakit di kepalanya.

“Dek, kamu kenapa?,”


Seketika Nadhira limbung. Dia kembali pingsan. Semua orang yang berada di tempat langsung terkejut dengan kejadian di hadapan mereka. Begitupun dengan Raffa. Dia adalah orang yang paling panik sekarang. Sudah sebulan ini keadaan adiknya baik-baik saja tapi kenapa dia kembali pingsan. Karena dia takut terjadi apa-apa dengan Nadhira. Ia pun langsung membawa sang adik ke rumah sakit dan segera menghubungi ibu dan ayah nya. Ibu dan ayah Nadhira langsung menuju ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Raffa kalau Nadhira kembali pingsan. Mereka tidak menyangka ini semua akan terjadi. Dokter pun menyampaikan sebuah berita yang sangat mengejutkan. Kabar yang begitu menohok hati ketiganya.

“Dhira kembali mengidap penyakit itu. Entah bagaimana, bakteri dan virus bisa kembali masuk
ke dalam tubuhnya. Bahkan dengan cepat sudah menyebar ke seluruh oragan yang penting.
Ini lebih parah dari sebelumnya, pak. Kemungkinan untuk selamat sangat kecil,”

Semua orang yang mendengarnya tidak kuasa menahan air mata. Mereka tidak menyangka takdir ini harus terjadi pada Nadhira.

***

Setelah hampir dua jam tidak sadarkan diri, Nadhira akhirnya membuka mata. Ditatapnya wajah-wajah orang yang ia cintai. Mulai dari ibu. Wanita hebat yang sudah berjasa banyak untuk Nadhira selama 19 tahun. Wanita yang sangat Nadhira sayangi. Seorang wanita yang kuat, sabar, tak pernah mengeluh menghadapi sikap Nadhira. Ayahnya, pria paruh baya yang sejak kecil Nadhira kagumi. Nadhira selalu bercita-cita menjadi seperti sang ayah yang mempunyai semangat baja. Pria yang tak pernah menyerah, pria yang selalu membuat suasana rumah menjadi berwarna. Raffa, kakak laki-laki yang Nadhira banggakan. Kakak yang selalu siap membantunya kapanpun ia minta. Kakak yang selalu ia repotkan. Kakak yang bisa membuatnya tertawa lepas. Kakak yang kadang selalu dibanding-bandingkan dengannya. Kakak yang selalu menampakan tawa dihadapannya meskipun Nadhira tahu ia sedang menghadapi banyak masalah. Kakak yang The Best untuk Nadhira. Mereka bertiga menampakan ekspresi yang sama, sedih.

“Ma-afin Dhira ya... sudah membuat kalian susah. Maafin Nadhira... ya yah, kalau Dhira belum
bisa jadi anak yang membanggakan ayah. Nadhira belum bisa membuat ayah tersenyum bangga karena Dhira. Dhira tahu ayah berharap banyak sama Dhira tapi maaf Dhira gak bisa memenuhi permintaan ayah,”

“Nggak kok dek. Ayah sangat bangga sama kamu. Kamu dan Raffa adalah anak kebanggan
Ayah. Kamu gak boleh ngomomng seperti itu lagi ya,?”

“Bu, Dhi...ra minta maaf ya kalau selama ini sudah menyusahkan ibu. Dhira selalu membuat ibu repot. Dhira selalu jadi anak yang na..kal. Dhira belum bisa jadi anak yang membahagiakan ibu. Dhira juga mengucapakan teri...ma kasih karena ibu selalu ada disamping Dhira. Ibu yang selalu perhatian sama Dhira. Ibu yang tak pernah lelah menasehati Dhira, terima kasih untuk jasa Ibu yang tidak akan pernah bisa Dhira balas,” sang ibu hanya bisa menggeleng pasrah dengan air mata yang terus mengalir.

“Kak... kak Raffa adalah The best brother for...me. Thanks. Oh ya, ja..ngan lupa ya kejutan
is.. time..wanya,”

Tiba-tiba, Nadhira kembali kejang. Dia mengaduh kesakitan. Detak jantung di monitor juga mulai tidak teratur. Sang ibu semakin histeris sedangkan sang ayah memanggil dokter secepatnya.

***

“Inikah waktunya? Aku harus meninggalkan mereka, Van?,” tanya Nadhira.

“Iya. Kamu sudah siap kan?,” jawab Alvan dengan suara mantap namun lubuk hatinya begitu berat mengucapkannya. Nadhira justru memberikan reaksi yang tidak diduga Alvan. Gadis disampingnya tersenyum. Pertama kali Alvan maelihat Nadhira tersenyum setulus itu.

“Aku sudah siap. Aku sudah melakukan semuanya dengan baik. Aku sudah bisa tenang meninggalkan mereka. Makasih ya,” Alvan tertegun seketika. Dia seakan lupa dengan tugas nya. Tapi tidak lama ia kembali sadar. Dia akan membawa gadis ini.

“Baiklah. Kalau kamu sudah siap. Kita pergi sekarang,”

Nadhira hanya bisa mengangguk pasrah.

Selamat tingga ibu, ayah, kakak. Aku menyayangi kalian


Nadhira menghembuskan napas terakhirnya menandakan dia telah pergi dengan damai. Sementara orang-oarang yang ia sayangi merasa kehilangan. Sang ibu langsung pingsan tak kuasa menerima kepergian putrinya. Sang ayah pun segera membawa istrinya ke luar ruangan. Sedangkan Raffa hanya bisa mematung memandangi tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa. Dia memang tidak menangis tapi justru dalam kediaman nya itulah dia menyimpan kepedihan yang begitu mendalam. Seminggu setelah kepergian Nadhira, Novel denga judul “Cahaya di ujung Asa” telah menyebar ke seluruh penyuka novel remaja. Mereka semua menyayangi Nadhira. Semua orang bangga dengan kesabaran hidup pecipta novel itu. Meskipun Nadhira telah pergi namun jiwanya telah menyatu ke dalam novel. Setiap orang yang membacanya akan mengenal dirinya. Mereka seolah bisa merasakan apa yang Nadhira rasakan. Mereka akan terus mengenang Nadhira.


--SELESAI--



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar