Minggu, 15 Maret 2015

NADHIRA #2

Hai... I am coming.
Aku bawa lanjutan cerpen nih. Cerpen? kok pake lanjutan? Maksudku cerbung ya guys.. :)
Gomen. Semoga masih ada yang berminat membacanya.

Happy Reading...



Genre        : Family, Sad, Fantasy

Length       :  2.274 word

Summary  : Seperti itulah sebuah penyesalan. Penyesalan selalu datang di akhir. Terkadang justru lebih menyakitkan melihat orang-orang yang menderita karena menanggung sebuah ujian yang menurutnya akibat kesalahannya. Itu justru berkali lipat lebih menyakitkan. Orang tersebut akan lebih cepat sadar akan perbuatannya. Sungguh hukuman yang sangat berat baginya.



Raffa POV

Aku menemani adikku yang belum sadar dari pingsannya sampai sekarang. Saat ini kami berada di Rumah Sakit Permata Bunda. Hampir seharian dia pingsan namun belum ada juga tanda-tanda akan sadar. Aku menatap iba pada Nadhira. Kenapa dia harus menanggung semuanya. Menurutku dia adalah anak yang baik, penurut, dan tidak suka banyak menuntut pada orang tua. Dia adalah satu-satunya harapan yang bisa membanggakan keluarga ini. Dia  adalah anak kebanggaan ayah dan ibu, tidak seperti aku. Aku telah membuat mereka kecewa. Kenapa tidak aku saja yang menanggungnya?.

Flasback

         Setelah Nadhira ditemukan dalam keadaan pingsan, aku segera membawanya ke rumah. Ayah melihat ku membawa Nadhira yang pingsan. Seketika dia terlihat panik.

"Nadhira kenapa fa? apa yang terjadi?,"

Ayah sangat panik melihat keadaan putri kesayangannya. Nadhira memang disayangi banyak orang. Mereka semua lebih peduli pada Nadhira. Nadhira selalu menjadi yang pertama. Sementara Aku? Mungkinkah bila aku yang berada di posisi Nadhira sekarang, ayah akan menunjukkan reaksi yang sama? entahlah, bukan saatnya aku bersikap seperti ini. Nadhira butuh pertolongan. Dia adalah adik kecilku yang sangat aku sayangi.

"Suhu badannya panas sekali, Fa. Ayo, kita bawa adik kamu ke rumah sakit saja. Ayah takut Dhira kenapa-kenapa,"


**

“Begini pak, bu. Berdasarkan hasil laboratorium anak bapak mengidap penyakit Septikemia,”

“Penyakit apa itu pak?,” tanya -Tama- ayah Nadhira.

“Septikemia atau biasa disebut dengan keracunan darah adalah penyakit yang disebabkan oleh darah yang mengalami infeksi bakteri dan virus. Selain itu infeksi pada organ bagian dalam dan luka dapat menjadi salah satu penyebabnya. Apakah Nadhira pernah mengalami sakit seperti infeksi paru-paru, meningitis atau pernah menjalani operasi sebelumnya?,” tanya dokter di tengah tengah penjelasan.

“Nadhira pernah mengalami gejala meningitis dok. Apakah itu bisa menyebabkan penyakit yang dokter jelaskan?,” jawab ayah Nadhira.

“Itu bisa dijadikan salah satu penyebabnya pak. Septikemia yang diderita oleh Nadhira sudah
lumayan parah pak.”

“Seberapa parah dok penyakit ini?,”


“Harapan sembuh pada sepsis (septikemia) parah relatif kecil, antara 25-30 persen pasien meninggal dalam kurun waktu 30 hari. Jika ini berkembang menjadi Septic Syok maka jumlahnya meningkat hingga 40-60 persen,”

Tanpa mereka sadari aku menguping pembicaraan mereka. Aku terdiam mendengarkan penjelasan sang dokter. Aku terpaku menerima informasi ini,  membuat seluruh aliran darahku berdesir hebat.

“Pesan saya pak. Tolong jangan membuat Nadhira tertekan. Jangan membuat dirinya syok atau
sejenisnya. Buatlah dia selalu merasa nyaman karena itu bisa sedikit meringankan bebannya dan rasa
sakitnya,”

Apakah ini mimpi? Tetapi sekarang terlalu nyata jika dikatakan mimpi. Nadhira kah yang harus menanggungnya. Aku pun segera kembali ruang rawat Nadhira.

Flasback End

***

Author POV

“Eh, aku dimana kak?,”

“Kau sudah sadar Ra? Kau sedang di rumah sakit sekarang,”

“Apa yang terjadi pada ku kak? kenapa aku sampai dibawa ke rumah sakit segala sih?,” Nadhira berusaha bangkit dari tidurnya namun Raffa segera mencegah tingkah adiknya itu.

“Kau jangan banyak bergerak, tenaga mu belum sepenuhnya pulih Dhira,”

“Apa yang terjadi padaku kak?,” tanya Nadhira dengan air muka serius.

“Kamu cuma kelelahan saja,” jawab Raffa asal.

“Bohong! aku tahu kakak bohong. Pasti kakak menyembunyikan sesuatu kan dari aku? Aku sudah tahu kak. Meskipun kalian berusaha menyembunyikannya aku sudah tahu ini akan terjadi pada ku?,” sahut Nadhira lirih namun masih bisa didengar oleh Raffa.

“Apa maksudmu? kamu sudah tahu tentang penyakitmu?”

“Ternyata memang benar apa yang dikatakan Alvan,” ucap Nadhira di dalam hati tentunya.

“Apa kak? Aku sakit apa sih?,”

Raffa terkejut mendengar jawaban adiknya. Tidak disangka Nadhira akan memberikan jawaban diluar dugaan seperti barusan. Ternyata Nadhira telah menjebak dirinya. Gawat kalau Nadhira sampai tahu penyakit yang ia derita. Kemungkinan dia semakin drop akan lebih cepat.

“Ehmm, kata dokter penyakitmu gak parah kok, Ra. Hanya perlu istirahat yang cukup, besok juga sudah mendingan,”

Jawaban Raffa sangatlah jelas, Nadhira tahu dengan jelas kalau itu adalah kebohongan.

***

Beberapa hari kemudian Nadhira terlihat sudah kembali sehat. Walaupun kenyataanya Nadhira akan kembali menggigil jika malam hari namun ia tidak pernah menunjukkannya kepada ayah, ibu mapun kakak nya. Sampai sekarang pun rasa sakit masih mendera kepala gadis itu. Nadhira berusaha mengabaikan rasa sakit tersebut untuk menyembunyikan dari orang-orang yang Nadhira sayangi. Dia tidak mau membuat keluarganya khawatir dengan kondisinya. Hari ini Nadhira memutuskan kembali menjalani aktivitasnya. Dia ingin kembali ke tempat kos karena besok dia sudah menghadapi ujian akhir di Universitas Brawijaya. Walaupun dia kuliah di kota yang sama tetapi Nadhira memilih ngekos. Alasannya sih ingin hidup mandiri tetapi alasan utamanya ia ingin jauh dari rumah supaya tidak mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Melihat kondisi anak bungsunya, sang ayah memutuskan untuk mengantar Nadhira. Ibu Nadhira dan Raffa pun ikut mengantarnya padahal kedua orang ini tidak betah menaiki kendaraan pribadi yang memiliki AC. Nadhira tentu tahu hal itu. Apalagi Raffa yang mendapat cap cowok payah dari Nadhira karena setelah naik mobil ber AC dapat dipastikan saudaranya itu akan masuk angin.

“Ibu mau ikut nganterin Dhira?,” tanya Nadhira dengan raut sumringah.

“Iya Dhira. Ibu ikut. Kamu tenang saja, ibu bakal minum A*ti*o supaya gak mabuk,”

“Ibu mu mah repot kalau mau pergi-pergi,“ Ayah menimpali dengan diselingi tawa renyah. Nadhira bahagia melihat suasana keluarganya kumpul seperti ini.

“Oh ya, kakak ikut juga nih? udah tahan sama aroma beginian? mau melepas gelar cowok payah dari aku kak? Gak bakalan bisa deh,”

“Sembarangan kamu ngatain kakakmu. Sebenernya sih masih gak kuat sama aroma yang begini tapi
mau gimana lagi. Ibu maksa sih, tapi aku bakalan ngebuktiin kalau cowok payah itu gak pantas buat aku. Nanti kalau pulang aku sakit biar ibu yang tanggung jawab,” Raffa berbicara dengan santai tanpa merasa bersalah.

“Apa kamu bilang? Kenapa ibu yang harus tanggung jawab? Kalau kamu sakit ya tinggal minum obat. Begitu aja kok repot,” balas sang ibu dengan nada bercanda.

“Isshh, sekali-kali perhatiin anak yang ini kali. Kasihan kan dia... Teraniaya,” sahut Raffa dengan suara yang aneh dan dibuat-dibuat.

“LEBAY...,” seru Nadhira, ibu dan ayah dengan kompak. Perjalanan kali ini sungguh sangat menyenangkan. Namun baru Nadhira mengecap kebahagian itu keadaannya mendadak menginterupsi. Dia merasakan sakit kepala yang luar biasa. Semula dia menahannya tapi daya yang tersisa masih kalah dengan rasa sakit yang tiba-tiba datang mendera. Ketiga orang yang berada di dekatnya terkejut melihat perubahan reaksi Nadhira yang begitu mendadak. Mereka sempat panik tetapi sang ayah langsung sigap memutar setir dan melajukan mobil ke arah rumah sakit terdekat.

***
“Dimana ini? tempat ini seperti beberapa hari yang lalu?,” gumam Nadhira lirih.

Jika memang ini tempat yang sama Nadhira yakin dia pasti ada di tempat ini. Tanpa pikir panjang Nadhira kembali memanggil nama pemuda misterius yang sempat menemuinya.

“Alvan? Kamu dimana? Aku yakin kamu mendengarku,” teriak Nadhira.

“Apa dugaan ku salah ya. Memangnya dia itu siapa? Kenapa harus muncul disini? Dhira, kau ini
Ngaco aja..,” rutuk gadis itu karena tidak mendapati jawaban, pun tidak menemukan sosok pemuda bernama Alvan. Tunggu... dari tempatnya sekarang berdiri Nadhira melihat sosok pemuda yang sedang berbaring dengan kedua tangan sebagai tumpuan. Perlahan Nadhira mendekat. Pelan sekali dia melangkahkan kakinya supaya tidak menimbulkan suara namun...

“Tak usah mengendap-ngendap seperti itu. Aku tahu kau pasti akan kembali ke sini,”

Cepat atau lambat kau akan datang kesini. Semakin lama kau akan semakin sering kesini, tanpa kau sadari kau akan semakin menjauhi duniamu sebelum...

“Kau sedang apa?,” Nadhira memotong ucapan Alvan yang disuarakan dalam hatinya.

“Nunggu kamu. Duduk sini!,” pinta Alvan lembut dengan nada yang tidak memaksa. Nadhira pun menurutinya. Dia duduk disamping Alvan. Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka. Keduanya bungkam dengan pikiran masing-masing. Lebih tepatnya Nadhira yang sedang diam karena memikirkan sesuatu. Dia ingin menyuarakan isi hatinya pada Alvan langsung tapi dia masih belum berani. Sementara Alvan, pemuda itu malah tertidur. Entah memang tidur atau hanya memejamkan matanya. Nadhira jadi merasa kikuk sendiri. Kenapa dia bisa kenal dengan orang macam ini. Bukannya mengajak dia ngobrol malah tidur. Diam-diam Nadhira mengamati wajahnya. Memandangnya dengan malu-malu. Mengamati setiap inci wajahnya yang baru ia sadari ternyata, ganteng. Nadhira pun tersenyum-senyum sendiri.

“Sudah puas ngelihatinnya?,” pertanyaan itu sontak membuat Nadhira salah tingkah. Dia sangat malu ketahuan memperhatikan wajah Alvan sedari tadi.

OMG... kenapa aku jadi kayak gini sih?

Alvan kembali membuka matanya lalu mengulaskan sebuah senyum. Senyum yang tulus dan sangat manis. Siapapun yang melihatnya seketika akan terpesona. Begitupun dengan Nadhira yang saat ini sedang salah tingkah.

“Oh ya, Dhira. Bagaimana dengan keluargamu?,” Alvan mencoba mengubah situasi supaya Nadhira tidak semakin salah tingkah.

“Keluargaku? Baik. Lebih baik dari sebelumnya. Aku mulai merasa bahagia berada di dekat mereka. Mereka kembali. Tembok pemisah diantara ayah dan ibu perlahan runtuh,”

Nadhira, ini saatnya.

“Nadhira, mungkin sekarang waktunya aku akan menjelaskan semua,” ujar Alvan serius sambil mengubah posisinya menjadi duduk menghadap gadis berambut sepunggung di sampingnya.

“Kau... percaya... malaikat?,” tanya Alvan dengan nada yang terdengar serius.

“Aku percaya,” jawab Nadhira dengan mantap.

“Apakah kau ingat akan permohonanmu malam itu? Kau yang akan mengikhlaskan dirimu
untuk kebahagiaan keluargamu?,” tanya Alvan kembali dengan hati-hati.

Nadhira seperti mendapat tamparan keras. Sakit! Dia tentu masih mengingatnya dengan baik namun ia berusaha melupakannya. Dan sekarang Alvan menanyakan soal itu. Masalah tersebut yang selalu mengiang di kepalanya, sejak awal Nadhira menginjakan kaki di tempat serba biru ini. Dia merasa permohonannya menjadi kenyataan. Dia merasa takut jika itu benar terjadi.

“Aku tahu kau masih mengingatnya. Bahkan saat ini kau merasa takut jika permohonanmu itu
menjadi kenyataan kan?,”

Nadhira langsung menoleh ke arah Alvan. Terkejut. Kenapa dia bisa tahu?

“Itu adalah keputusanmu. Tidak ada orang yang menyuruhmu bukan? Aku harus jujur, Dhira.
Sebenarnya permohonanmu itu...,”

“Kenapa? Ada apa dengan permohonanku?,”

“Permohonanmu...,” apakah benar ia akan sanggup menerimanya?

Flasback

“Kau ditugaskan menjemput gadis bernama Nadhira binti Tama. Seperti biasa, ada dua hal yang harus kau ingat. Pertama. Kau harus mengatakan semua takdir tentang dirinya. Kedua, kau harus membawanya saat ia sudah siap dan bisa mengikhlaskan diri. Jangan bawa dia dalam keadaan terpaksa,”

“Jika dia belum siap bagaimana?,”

“Tenang saja. Kau tidak perlu khawatir. Dia gadis yang baik dan kuat. Dia pasti bisa menerima
semuanya,”

Fashback End

“Permohonanmu... telah... dikabulkan. Ketakutanmu memang harus terjadi. Maaf,”
Mendengar tuturan Alvan, Nadhira melemas seketika. Rasanya dia ingin menangis sekencangnya tetapi ia tidak bisa.

“Aku berbeda dengan mu. Aku bukanlah manusia. Aku diutus membawa tugas ini. Aku...,” lanjut Alvan yang seketika dipotong Nadhira.

“Cukup. Jangan diteruskan! Aku tidak mau mendengar semua yang kamu katakan,”

“Dhira, kau harus mendengarnya!”

“Tidak!,”

“Aku yang membawa penyakit itu ke dalam tubuhmu. Kau harus tahu, dalam waktu dekat kau harus ikut dengan ku, meninggalkan keluargamu dan orang-orang yang kau sayangi,”

“Tidak mau!,” Nadhira beranjak pergi meninggalkan Alvan.

“Nadhira. Kau hanya memiliki .....”
***

Nadhira yang membuka mata membuat orang-orang yang beberapa hari mendampinginya terkejut sekaligus bahagia. Napas gadis itu sedikit memburu seolah dia baru saja berlari dengan sangat kencang. Dia pun mengatur napasnya sebelum dia menyadari kehadiran ayah, ibu, Raffa. Raut muka Nadhira berubah setelah melihat mereka. Sorot matanya mendung. Tiba-tiba Nadhira menangis dihadapan tiga orang itu. Ibu Nadhira segera memeluk sang anak untuk menenangkannya. Menyaksikan adiknya menangis membuat Raffa memutuskan keluar dari kamar rawat Nadhira. Dia tidak kuat melihat adik satu-satunya terisak hebat. Begitupun dengan ayah Nadhira. Dia pun tak kalah sedih dan nelangsa melihat keadaan anak kesayangannya. Dia marah pada dirinya sendiri. Ini baru pertama kalinya Ayah Nadhira melihat putrinya terisak begitu dalam. Dadanya serasa tersayat mendengar tangisan lirih itu. Dia bukanlah ayah yang baik bagi Nadhira.

Mengapa Nadhira yang harus menanggung semuanya? Aku yang banyak dosa disini. Nadhira adalah anak yang baik. Dia selalu menuruti apa kemauan kedua orang tuanya. Dia tidak pernah meminta yang macam-macam. Kenapa harus dia yang menerimanya??


Ayah Nadhira hanya menangis lirih sambil terduduk di dalam mushola rumah sakit. Dia sangat menyesal dengan kelakuannya selama ini terhadap keluarga terutama istrinya. Dia sadar perbuatannya cepat atau lambat akan mendapat balasan namun dia tidak menyangka balasannya harus Nadhira yang menanggung. Dia benar-benar merasa bersalah. Seperti itulah sebuah penyesalan. Penyesalan selalu datang di akhir. Terkadang justru lebih menyakitkan melihat orang-orang yang menderita karena menanggung sebuah ujian yang menurutnya akibat kesalahannya. Itu justru lebih menyakitkan. Orang tersebut akan lebih cepat sadar akan perbuatannya. Sungguh hukuman yang sangat berat baginya.

***

Setelah kejadian semalam yang mengharu biru, kondisi Nadhira semakin memburuk. Suhu bandannya tinggi. Dia bahkan sempat menggigil. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Dan saat ini Nadhira kembali tidak sadarkan diri. Ibu Nadhira prihatin dan sedih melihat putrinya. Dia terus memanjatkan do’a tanpa kenal putus begitupun dengan air matanya. Ibu Nadhira juga enggan makan. Dia tidak mau jauh dari sisi Nadhira. Melihat kondisi istrinya yang seperti itu ayah Nadira pun semakin tertohok hatinya. Perasaannya semakin hancur melihat kondisi kedua perempuan di hidupnya. Apalagi pada perempuan yang sudah menemani hidupnya selama 25 tahun. Dia juga baru pertama kalinya melihat sang istri rapuh seperti itu. Selama ini dia begitu kuat dan tabah menghadapi perilakunya. Dia bahkan tidak pernah menunjukkan rasa sedih di hadapannya walaupun sikapnya sudah keterlaluan. Dia hanya bisa memarahinya. Dia tahu sebenarnya dibalik kemarahan Naima, ada rasa sakit luar biasa yang ia tahan. Dia bahkan mungkin sudah kebal dengan rasa sakit itu tapi kali ini, pertahanannya runtuh. Maaf. Aku sangat menyesal, Naima.


Nadhira kembali terdampar di tempat yang baginya kesalahan. Dia merasa bersalah pada Alvan karena telah meninggalkan dan meluapkan emosi kala itu. Dia tidak bersalah. Dia hanya menjalankan tugasnya. Nadhira sadar semua ini adalah takdir hidup yang harus ia terima. Dia ingin meminta maaf pada pemuda itu, tapi dia juga ingin mengajukan sebuah permintaan untuk terakhir kalinya. Tiba-tiba orang yang sedang ia tunggu muncul dihadapannya dengan disertai senyum andalan Alvan. Nadhira pun tak menyia-nyiakan waktunya. Dia segera menghambur ke arah pemuda yang baru saja menorehkan seulas senyum. Nadhira pun menumpahkan segala kesedihan dan penyesalannya. Alvan yang mendapati perlakuan gadis itu hanya bisa pasrah. Dia hanya diam. Dia bisa merasakan semua yang Nadhira rasakan. Nadhira yang sedih membuat dia lebih sedih. Nadhira yang menyesal membuat dia semakin menyesal dan merasa bersalah. Dia pun memaklumi sikap Nadhira saat itu. Entah lah sejak kapan dia menjadi bersikap melankolis. Dia sendiri pun tidak tahu.


***

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar