Kamis, 06 Maret 2014

MY STORY CREATION


 I AM COMEBACK AGAIN...

Assalamu'alaikum Dear.
Hai... Hai...
Yellfy datang kembali. Setelah sekian lama Yellfy berkutat di dunia nyata akhirnya ada waktu luang juga buat menyapa kalian semua. Maafkan Yellfy yang baru bisa muncul sekarang. Yellfy memang benar-benar sibuk. Baiklah. Untuk menebus kerinduan kalian sama Yellfy #hehee (pede banget yak) Yellfy bakalan ngepost sebuah cerpen buat kalian. #Yeeyy!! Tepuk tanga sendiri karena tidak ada yang mau tepuk tangan.
Cerpen ini murni buatan Yellfy sendiri. Sebenarnya sih ini buat tugas di LPM yang Yellfy ikuti tapi tak apalah. Jadi ide membuat cerita ini berawal saat Yellfy yang gak sengaja baca sebuah artikel tentang bintang-bintang gitu. Oke deh, dari pada cuap-cuap gak jelas. Ini dia Cerpen Karya Yellfy. Don't PLAGIAT!! Finally, Happy Reading...

POLARIS DAN SIGMA OCTANTIS

Semilir angin malam menerpa lembut wajah seorang gadis yang terlihat memejamkan kedua matanya. Hidungnya yang bisa dikatakan mancung dan bulu mata yang terlihat lentik tanpa dibubuhi maskara memagari kelopak matanya. Bibir tipis yang berwarna pink karena polesan lip ice mengulumkan seulas senyum. Rautnya begitu menenangkan. Paras sang gadis dipermanis dengan sebuah tahi lalat kecil yang berada di sudut bawah mata kananya. Walaupun matanya terpejam tetapi dia tidak sedang tidur melainkan dia sedang merasakan setiap hembusan angin yang datang menyentuh wajahnya. Beberapa helai rambut panjang miliknya yang sengaja dia kuncir kebelakang tampak berterbangan mengikuti arah angin yang datang.

Gadis itu bernama Lintang Astrila. Saat ini dia sedang berdiri di atap sebuah apartemen yang memiliki sepuluh lantai. Tempatnya berpijak sekarang dia ketahui sejak dua minggu yang lalu tepatnya ketika Lintang mengantarkan Pizza ke beberapa penghuni di apartemen ini. Sejak saat itu setiap kali ada permintaan pizza ke apartemen tersebut Lintang dengan senang hati menawarkan diri. Lintang memang bekerja sebagai tukang pengantar Pizza di salah satu restoran cepat saji. Hanya pekerjaan itu yang menjadi penopang hidupnya selama tinggal di kota yang elit ini. Kota yang begitu megah namun tanpa disadari mempunyai keganasan yang begitu memprihatinkan. Berada di atas apartemen ini membuatnya sedikit tenang. Beban hidupnya seakan berkurang. Terbang bersama angin yang datang.

         “Kalau mau bunuh diri jangan di tempat ini,”
Sebuah suara seperti memperingatinya. Lintang sedikit terkejut mendengar suara itu. Ternyata sejak tadi dia tidak sendirian. Ada orang asing yang melihatnya di tempat ini. Lintang pun segera membuka mata untuk mencari tahu sang pemilik suara yang berhasil mengusik waktu menyendirinya namun begitu membuka mata Lintang memekik melihat apa yang ada di hadapannya. Seketika dia mundur teratur ke belakang. Menjauh dari tepi atap apartemen itu. Dia baru menyadari kalau dirinya melangkah terlalu jauh ketika matanya terpejam tadi supaya bisa merasakan desiran angin yang lebih kencang.
 
            “Huuhh, hampir saja. Pantas ada orang yang menganggapku mau bunuh diri. Tapi ...,” gumamannya terhenti. Walaupun dia sudah menyelamatkannya tapi bukan berarti dia bisa menuduhnya mau bunuh diri bukan? Lintang dengan cepat berbalik badan.

            “Hey... kalau bicara... ,”

Lintang tidak mendapati seorangpun di tempat ini. Dia tercenung. Telinganya masih normal. Lalu Lintang mencubit tangannya sendiri sekeras mungkin.

            “Aauuww!!” pekiknya.

Lintang masih berada di alam nyata. Lalu siapa yang berbicara padanya tadi?.

            “Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya?”

Lintang memberanikan diri memandang ke sekeliling tempat itu. Perasaannya semakin tidak enak. Akhirnya dia memutuskan meninggalkan atap apatemen secepat dia bisa. Menurutnya itu adalah pilihan terbaik yang harus dia lakukan saat ini.

***
            Keesokan malamnya Lintang kembali mendapat tugas untuk mengantar pizza ke apartemen itu. Dia bergidik mengingat kejadian malam lalu. Dia merasa malas untuk datang ke sana lagi.

            “Saya harus mengantar pizza ke apartemen Intan Permai lagi bu?”

tanya Lintang dengan ekspresi yang begitu terkejut kepada bu Desi.

            “Iya, memangnya kenapa? Kamu keberatan? Bukankah selama ini kamu yang paling bersemangat setiap ada pesanan ke apartemen itu?”

Bu Desi dengan cepat membalas pertanyaan Lintang dan berhasil membuatnya tidak berkutik.

            “Tapi, bu...,” kilah Lintang.

            “Sudahlah. Hanya kamu yang kosong.  Kamu tidak mau kan gaji kamu saya potong?”

ancam Bu Desi yang sukses membuat Lintang mau tidak mau pergi mengantar pizza itu.
Setelah 15 menit Lintang sampai juga di apartemen Intan Permai

            “Kamar nomer 19, Lantai 10?? Tidak biasanya penghuni ini memesan pizza,”

Setelah memarkirkan sepeda motornya dia bergegas menuju kamar yang tertulis di buku pelanggan. Dia hanya berniat mengantar pizza, meminta tanda tangan dan uang pembayaran kemudian segera kembali. Kalau bisa secepat mungkin.

            “Ting..!!”

Lintang sudah berada di lantai sepuluh. Pintu lift pun terbuka.

            “Dimana kamarnya?”

Lintang berjalan menyusuri lorong di lantai paling atas apartemen ini. Setelah beberapa saat dia menemukan kejanggalan. Mengapa kamar yang berdampingan justru kamar nomer 18 dan 20? Tidak kamar nomer 18 dan 19? Atau kamar nomer 19 dan 20? Gadis itu tidak ingin berpikir lebih jauh. Dia kembali pada niat awalnya. Mengantar pizza kemudian langsung kembali.

            “Permisi. Pizza datang!” seru Lintang.

Tidak lama kemudian pintu terbuka. Dari balik pintu muncul sosok pria yang berhasil membuat Lintang terpesona. Pria yang sangat tampan.

            “Kenapa baru datang sekarang? Ini sudah terlambat 10 menit dari jam makan malamku. Aku tidak mau menerimanya,”

Tolak pria itu sambil mendorong kotak pizza kembali ke tangan Lintang. Dia seperti pernah mendengar suara pria dihadapannya. Suaranya tidak asing.

            “Hey, kau kan sudah memesannya. Kau tidak boleh menolak pizza ini sesukamu,”

            “Kenapa? Itu juga salahmu. Kenapa kau terlambat mengantar pizza?”

            “Ini... ini juga bukan kemauanku. Di perjalanan tadi ada sedikit masalah. Aku minta maaf,” 

            “Kau tidak perlu mengarang alasan. Kau sengaja menunda-nunda datang kesini kan?"

Lintang tidak membalas lagi. Dia memang sengaja mengulur waktu untuk datang.

            “Kenapa diam? Apa tebakanku benar?” selidik pria itu.

            “Lintang Astrila??”

Bintang membelalakan matanya. Dia terkejut. Darimana dia tahu nama lengkapnya? Dia sendiri tidak mengenal pria dihadapannya itu.

            “Jangan tanyakan darimana aku tahu nama lengkapmu? Sudahlah. Karena kamu sudah mengecewakan pelangganmu jadi kamu harus menebus semuanya,”

Kotak pizza yang berada di tangan Lintang diambil alih begitu saja. Lalu pria itu masuk kembali kedalam apartemennya. Setelah keluar lagi kotak pizza itu sudah tidak ada lagi di tangannya.

            “Ikut aku!” sembari menarik tangan Lintang. Meski sedikit memaksa tetapi entah kenapa Lintang tidak sanggup menolaknya. Rasa takut memenuhi benaknya. Kenapa dia dengan mudanya mengikuti kemauan pria asing ini.


            Mereka tiba di atap apartemen. Tempat Lintang beberapa hari lalu menyendiri. Tiba-tiba peristiwa malam itu kembali menyeruak dari pikirannya.

            “Duduklah disini!”

Lintang menurut begitu saja. Pria itu tetap berdiri. Dia tidak ikut duduk disamping Lintang. Dia justru berjalan menjauhi bangku tenpat yang Lintang duduki.

            “Aku Dion,” pria yang mengaku bernama Dion itu diam. Tidak lama dia melanjutkan ucapannya.

“Kita memang tidak saling mengenal tapi aku mengenalmu dengan sangat baik. Kau tidak perlu tahu siapa aku,”

Dion kembali menghampiri Lintang.

“Oh ya, untuk menebus kesalahanmu aku mau kamu menemaniku setiap malam di tempat ini selama satu minggu.”

Pintanya atau lebih tepatnya perintah dari Dion yang tidak bisa ditolak Lintang.

***

Sejak saat itu setiap malam Lintang datang ke apartemen Intan Permai. Menurutnya Dion adalah pria yang baik, perhatian walaupun kadang menyebalkan. Lintang merasa nyaman setiap kali berada di dekat pria itu. Tanpa disadari dia merasa sedih karena malam ini adalah tugas yang terakhir untuk menemani Dion. 

“Makasih ya karena kamu sudah mau menemaniku satu minggu ini.”

“Iya, sama-sama. Tapi memangnya kita tidak bisa seperti ini seterusnya?” tanya Lintang begitu polos. Dion terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan gadis disebelahnya.

“Kamu lihat bintang di ujung sana!” ujar Dion mengalihkan pembicaraan. Lintang pun mengikuti arah yang ditunjuk Dion. Dia melihat sebuah bintang yang paling bersinar diantara bintang disekitarnya.

“Itu adalah Polaris. Kadang juga disebut bintang utara. Bintang yang paling terang di sebuah rasi yang bernama Ursa Minor, suatu rasi yang berada di langit utara. Bintang itu tidak bergerak seperti kebanyakan bintang disekitarnya. Dia menjadi poros di belahan bumi utara.” Dion berhenti untuk menarik napas.

“Jika di langit utara ada polaris tentunya di langit selatan ada bintang yang serupa. Namanya Sigma Octantis. Bintang itu memang tidak seterkenal bintang seberangnya karena bintang itu redup sehingga hampir tidak bisa dilihat semua orang kecuali menggunakan alat. Jika kedua bintang itu ditarik menggunakan garis lurus, garis itu akan menghubungkan langit utara dan langit selatan”

            “Dion...”

            “Lintang, dengarkan aku! Ini permintaanku yang terakhir padamu. Bayangkan kalau kamu menjadi Polaris dan aku adalah Sigma octantis.”

            “Kenapa? Kenapa kamu jadi Sigma Octantis, bukankah dia bintang yang redup dan tidak bisa dilihat semua orang”

            “Karena aku memang seperti itu. Kita akan berpisah tapi kita akan tetap saling terhubung seperti kedua bintang itu.”

Lintang kecewa mendengar ucapan Dion. Tanpa pikir panjang dia meninggalkan Dion di tempat itu. Dia berlari sebisanya. Dia takut mendengar kenyataan itu. Dia marah pada Dion. Kenapa dia yang membuat mereka dekat dan dia sendiri pula yang akan meninggalkannya.

***

            Keesokan harinya Lintang kembali datang ke apartemen. Dia segera menuju kamar Dion. Dia sudah siap dengan pertemuan mereka yang terakhir kali meskipun didalam hatinya mengatakan hal yang sebaliknya.

            “Dion! Dion! kau jahat!”

teriak Lintang sambil menggedor pintu kamar nomer 19. Karena kegaduhan yang Lintang ciptakan penghuni kamar nomer 18 pun keluar.
 
            “Hai nona, kau mencari siapa?”

            “Dion. Kau mengenalnya? Dia penghuni kamar ini. Apa dia sudah pergi”

Perempuan setengah baya dihadapan mengernyit heran.

            “Nona, setahu saya sejak dua minggu yang lalu apartemen ini kosong,”

 “Tidak, waktu itu aku juga sempat mengantar pizza ke kamar ini. Dion! buka pintunya!”

            “Ya sudah kalau kau tidak percaya. Terus saja gedor pintu itu samapai kau lelah,”

Lintang tidak menghiraukan ucapan ibu itu. Dia tetap menggedor-gedor pintu kamar yang memang sudah tidak berpenghuni. Jelas saja tidak ada seorangpun yang membukakan pintu dihadapannya.      
             "Apa benar ucapan ibu itu? Kalau memang benar lalu Dion itu siapa?" tanya Lintang dalam hatinya. Air mata mulai membasahi pipinya. Tubuhnya melorot seolah-olah tenaganya telah hilang begitu saja.

            “Dion kamu itu siapa?. Kenapa kamu begitu semu?. Kamu tidak bisa dilihat orang lain. tapi kamu bukan Sigma Octantis. Bagiku kamu adalah Polaris,”

Air mata Lintang yang berlinang menghantarkan kepergian Dion. Walaupun dia sangat kecewa tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan selalu menatap Polaris setiap malam untuk menghilangkan kerinduannya. Dia menolak permintaan Dion untuk menganggapnya sigma octantis karena bintang itu tidak pernah terlihat. Dia lebih suka menganggapnya polaris yang merupakan bintang paling bersinar di langit utara seperti halnya di dalam hatinya.

SELESAI