Kamis, 06 Maret 2014

MY STORY CREATION


 I AM COMEBACK AGAIN...

Assalamu'alaikum Dear.
Hai... Hai...
Yellfy datang kembali. Setelah sekian lama Yellfy berkutat di dunia nyata akhirnya ada waktu luang juga buat menyapa kalian semua. Maafkan Yellfy yang baru bisa muncul sekarang. Yellfy memang benar-benar sibuk. Baiklah. Untuk menebus kerinduan kalian sama Yellfy #hehee (pede banget yak) Yellfy bakalan ngepost sebuah cerpen buat kalian. #Yeeyy!! Tepuk tanga sendiri karena tidak ada yang mau tepuk tangan.
Cerpen ini murni buatan Yellfy sendiri. Sebenarnya sih ini buat tugas di LPM yang Yellfy ikuti tapi tak apalah. Jadi ide membuat cerita ini berawal saat Yellfy yang gak sengaja baca sebuah artikel tentang bintang-bintang gitu. Oke deh, dari pada cuap-cuap gak jelas. Ini dia Cerpen Karya Yellfy. Don't PLAGIAT!! Finally, Happy Reading...

POLARIS DAN SIGMA OCTANTIS

Semilir angin malam menerpa lembut wajah seorang gadis yang terlihat memejamkan kedua matanya. Hidungnya yang bisa dikatakan mancung dan bulu mata yang terlihat lentik tanpa dibubuhi maskara memagari kelopak matanya. Bibir tipis yang berwarna pink karena polesan lip ice mengulumkan seulas senyum. Rautnya begitu menenangkan. Paras sang gadis dipermanis dengan sebuah tahi lalat kecil yang berada di sudut bawah mata kananya. Walaupun matanya terpejam tetapi dia tidak sedang tidur melainkan dia sedang merasakan setiap hembusan angin yang datang menyentuh wajahnya. Beberapa helai rambut panjang miliknya yang sengaja dia kuncir kebelakang tampak berterbangan mengikuti arah angin yang datang.

Gadis itu bernama Lintang Astrila. Saat ini dia sedang berdiri di atap sebuah apartemen yang memiliki sepuluh lantai. Tempatnya berpijak sekarang dia ketahui sejak dua minggu yang lalu tepatnya ketika Lintang mengantarkan Pizza ke beberapa penghuni di apartemen ini. Sejak saat itu setiap kali ada permintaan pizza ke apartemen tersebut Lintang dengan senang hati menawarkan diri. Lintang memang bekerja sebagai tukang pengantar Pizza di salah satu restoran cepat saji. Hanya pekerjaan itu yang menjadi penopang hidupnya selama tinggal di kota yang elit ini. Kota yang begitu megah namun tanpa disadari mempunyai keganasan yang begitu memprihatinkan. Berada di atas apartemen ini membuatnya sedikit tenang. Beban hidupnya seakan berkurang. Terbang bersama angin yang datang.

         “Kalau mau bunuh diri jangan di tempat ini,”
Sebuah suara seperti memperingatinya. Lintang sedikit terkejut mendengar suara itu. Ternyata sejak tadi dia tidak sendirian. Ada orang asing yang melihatnya di tempat ini. Lintang pun segera membuka mata untuk mencari tahu sang pemilik suara yang berhasil mengusik waktu menyendirinya namun begitu membuka mata Lintang memekik melihat apa yang ada di hadapannya. Seketika dia mundur teratur ke belakang. Menjauh dari tepi atap apartemen itu. Dia baru menyadari kalau dirinya melangkah terlalu jauh ketika matanya terpejam tadi supaya bisa merasakan desiran angin yang lebih kencang.
 
            “Huuhh, hampir saja. Pantas ada orang yang menganggapku mau bunuh diri. Tapi ...,” gumamannya terhenti. Walaupun dia sudah menyelamatkannya tapi bukan berarti dia bisa menuduhnya mau bunuh diri bukan? Lintang dengan cepat berbalik badan.

            “Hey... kalau bicara... ,”

Lintang tidak mendapati seorangpun di tempat ini. Dia tercenung. Telinganya masih normal. Lalu Lintang mencubit tangannya sendiri sekeras mungkin.

            “Aauuww!!” pekiknya.

Lintang masih berada di alam nyata. Lalu siapa yang berbicara padanya tadi?.

            “Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya?”

Lintang memberanikan diri memandang ke sekeliling tempat itu. Perasaannya semakin tidak enak. Akhirnya dia memutuskan meninggalkan atap apatemen secepat dia bisa. Menurutnya itu adalah pilihan terbaik yang harus dia lakukan saat ini.

***
            Keesokan malamnya Lintang kembali mendapat tugas untuk mengantar pizza ke apartemen itu. Dia bergidik mengingat kejadian malam lalu. Dia merasa malas untuk datang ke sana lagi.

            “Saya harus mengantar pizza ke apartemen Intan Permai lagi bu?”

tanya Lintang dengan ekspresi yang begitu terkejut kepada bu Desi.

            “Iya, memangnya kenapa? Kamu keberatan? Bukankah selama ini kamu yang paling bersemangat setiap ada pesanan ke apartemen itu?”

Bu Desi dengan cepat membalas pertanyaan Lintang dan berhasil membuatnya tidak berkutik.

            “Tapi, bu...,” kilah Lintang.

            “Sudahlah. Hanya kamu yang kosong.  Kamu tidak mau kan gaji kamu saya potong?”

ancam Bu Desi yang sukses membuat Lintang mau tidak mau pergi mengantar pizza itu.
Setelah 15 menit Lintang sampai juga di apartemen Intan Permai

            “Kamar nomer 19, Lantai 10?? Tidak biasanya penghuni ini memesan pizza,”

Setelah memarkirkan sepeda motornya dia bergegas menuju kamar yang tertulis di buku pelanggan. Dia hanya berniat mengantar pizza, meminta tanda tangan dan uang pembayaran kemudian segera kembali. Kalau bisa secepat mungkin.

            “Ting..!!”

Lintang sudah berada di lantai sepuluh. Pintu lift pun terbuka.

            “Dimana kamarnya?”

Lintang berjalan menyusuri lorong di lantai paling atas apartemen ini. Setelah beberapa saat dia menemukan kejanggalan. Mengapa kamar yang berdampingan justru kamar nomer 18 dan 20? Tidak kamar nomer 18 dan 19? Atau kamar nomer 19 dan 20? Gadis itu tidak ingin berpikir lebih jauh. Dia kembali pada niat awalnya. Mengantar pizza kemudian langsung kembali.

            “Permisi. Pizza datang!” seru Lintang.

Tidak lama kemudian pintu terbuka. Dari balik pintu muncul sosok pria yang berhasil membuat Lintang terpesona. Pria yang sangat tampan.

            “Kenapa baru datang sekarang? Ini sudah terlambat 10 menit dari jam makan malamku. Aku tidak mau menerimanya,”

Tolak pria itu sambil mendorong kotak pizza kembali ke tangan Lintang. Dia seperti pernah mendengar suara pria dihadapannya. Suaranya tidak asing.

            “Hey, kau kan sudah memesannya. Kau tidak boleh menolak pizza ini sesukamu,”

            “Kenapa? Itu juga salahmu. Kenapa kau terlambat mengantar pizza?”

            “Ini... ini juga bukan kemauanku. Di perjalanan tadi ada sedikit masalah. Aku minta maaf,” 

            “Kau tidak perlu mengarang alasan. Kau sengaja menunda-nunda datang kesini kan?"

Lintang tidak membalas lagi. Dia memang sengaja mengulur waktu untuk datang.

            “Kenapa diam? Apa tebakanku benar?” selidik pria itu.

            “Lintang Astrila??”

Bintang membelalakan matanya. Dia terkejut. Darimana dia tahu nama lengkapnya? Dia sendiri tidak mengenal pria dihadapannya itu.

            “Jangan tanyakan darimana aku tahu nama lengkapmu? Sudahlah. Karena kamu sudah mengecewakan pelangganmu jadi kamu harus menebus semuanya,”

Kotak pizza yang berada di tangan Lintang diambil alih begitu saja. Lalu pria itu masuk kembali kedalam apartemennya. Setelah keluar lagi kotak pizza itu sudah tidak ada lagi di tangannya.

            “Ikut aku!” sembari menarik tangan Lintang. Meski sedikit memaksa tetapi entah kenapa Lintang tidak sanggup menolaknya. Rasa takut memenuhi benaknya. Kenapa dia dengan mudanya mengikuti kemauan pria asing ini.


            Mereka tiba di atap apartemen. Tempat Lintang beberapa hari lalu menyendiri. Tiba-tiba peristiwa malam itu kembali menyeruak dari pikirannya.

            “Duduklah disini!”

Lintang menurut begitu saja. Pria itu tetap berdiri. Dia tidak ikut duduk disamping Lintang. Dia justru berjalan menjauhi bangku tenpat yang Lintang duduki.

            “Aku Dion,” pria yang mengaku bernama Dion itu diam. Tidak lama dia melanjutkan ucapannya.

“Kita memang tidak saling mengenal tapi aku mengenalmu dengan sangat baik. Kau tidak perlu tahu siapa aku,”

Dion kembali menghampiri Lintang.

“Oh ya, untuk menebus kesalahanmu aku mau kamu menemaniku setiap malam di tempat ini selama satu minggu.”

Pintanya atau lebih tepatnya perintah dari Dion yang tidak bisa ditolak Lintang.

***

Sejak saat itu setiap malam Lintang datang ke apartemen Intan Permai. Menurutnya Dion adalah pria yang baik, perhatian walaupun kadang menyebalkan. Lintang merasa nyaman setiap kali berada di dekat pria itu. Tanpa disadari dia merasa sedih karena malam ini adalah tugas yang terakhir untuk menemani Dion. 

“Makasih ya karena kamu sudah mau menemaniku satu minggu ini.”

“Iya, sama-sama. Tapi memangnya kita tidak bisa seperti ini seterusnya?” tanya Lintang begitu polos. Dion terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan gadis disebelahnya.

“Kamu lihat bintang di ujung sana!” ujar Dion mengalihkan pembicaraan. Lintang pun mengikuti arah yang ditunjuk Dion. Dia melihat sebuah bintang yang paling bersinar diantara bintang disekitarnya.

“Itu adalah Polaris. Kadang juga disebut bintang utara. Bintang yang paling terang di sebuah rasi yang bernama Ursa Minor, suatu rasi yang berada di langit utara. Bintang itu tidak bergerak seperti kebanyakan bintang disekitarnya. Dia menjadi poros di belahan bumi utara.” Dion berhenti untuk menarik napas.

“Jika di langit utara ada polaris tentunya di langit selatan ada bintang yang serupa. Namanya Sigma Octantis. Bintang itu memang tidak seterkenal bintang seberangnya karena bintang itu redup sehingga hampir tidak bisa dilihat semua orang kecuali menggunakan alat. Jika kedua bintang itu ditarik menggunakan garis lurus, garis itu akan menghubungkan langit utara dan langit selatan”

            “Dion...”

            “Lintang, dengarkan aku! Ini permintaanku yang terakhir padamu. Bayangkan kalau kamu menjadi Polaris dan aku adalah Sigma octantis.”

            “Kenapa? Kenapa kamu jadi Sigma Octantis, bukankah dia bintang yang redup dan tidak bisa dilihat semua orang”

            “Karena aku memang seperti itu. Kita akan berpisah tapi kita akan tetap saling terhubung seperti kedua bintang itu.”

Lintang kecewa mendengar ucapan Dion. Tanpa pikir panjang dia meninggalkan Dion di tempat itu. Dia berlari sebisanya. Dia takut mendengar kenyataan itu. Dia marah pada Dion. Kenapa dia yang membuat mereka dekat dan dia sendiri pula yang akan meninggalkannya.

***

            Keesokan harinya Lintang kembali datang ke apartemen. Dia segera menuju kamar Dion. Dia sudah siap dengan pertemuan mereka yang terakhir kali meskipun didalam hatinya mengatakan hal yang sebaliknya.

            “Dion! Dion! kau jahat!”

teriak Lintang sambil menggedor pintu kamar nomer 19. Karena kegaduhan yang Lintang ciptakan penghuni kamar nomer 18 pun keluar.
 
            “Hai nona, kau mencari siapa?”

            “Dion. Kau mengenalnya? Dia penghuni kamar ini. Apa dia sudah pergi”

Perempuan setengah baya dihadapan mengernyit heran.

            “Nona, setahu saya sejak dua minggu yang lalu apartemen ini kosong,”

 “Tidak, waktu itu aku juga sempat mengantar pizza ke kamar ini. Dion! buka pintunya!”

            “Ya sudah kalau kau tidak percaya. Terus saja gedor pintu itu samapai kau lelah,”

Lintang tidak menghiraukan ucapan ibu itu. Dia tetap menggedor-gedor pintu kamar yang memang sudah tidak berpenghuni. Jelas saja tidak ada seorangpun yang membukakan pintu dihadapannya.      
             "Apa benar ucapan ibu itu? Kalau memang benar lalu Dion itu siapa?" tanya Lintang dalam hatinya. Air mata mulai membasahi pipinya. Tubuhnya melorot seolah-olah tenaganya telah hilang begitu saja.

            “Dion kamu itu siapa?. Kenapa kamu begitu semu?. Kamu tidak bisa dilihat orang lain. tapi kamu bukan Sigma Octantis. Bagiku kamu adalah Polaris,”

Air mata Lintang yang berlinang menghantarkan kepergian Dion. Walaupun dia sangat kecewa tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan selalu menatap Polaris setiap malam untuk menghilangkan kerinduannya. Dia menolak permintaan Dion untuk menganggapnya sigma octantis karena bintang itu tidak pernah terlihat. Dia lebih suka menganggapnya polaris yang merupakan bintang paling bersinar di langit utara seperti halnya di dalam hatinya.

SELESAI

Minggu, 19 Januari 2014

CERPEN_ KEPINGAN MEMORI



KEPINGAN MEMORI

                Gadis itu meringkuk dalam diam. Alunan lagu yang berjudul ‘Disaat Sendiri’ mengalun damai memenuhi ruang kamarnya yang sedari tadi ia kunci. Sekilas gadis dengan pipi chubbinya itu tampak menikmati dentingan musik yang berasal dari ponsel berwarna birunya. Namun jika diperhatikan dengan lebih seksama raut wajahnya dipenuhi oleh garis-garis halus yang samar. Seketika keningnya mengerut kemudian mengendur kembali. Gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Sepenggal memori yang dia sadari menghilang dan sampai sekarang pun belum berhasil ia temukan. Dia pun memejamkan mata sejenak untuk mengurangi sedikit kegelisahannya. Suasana hatinya saat ini begitu kalut. Dia tidak suka terjebak pada posisi seperti sekarang. Merasa bersalah karena melupakan sebuah janji atau mungkin ucapannya sendiri yang tiba-tiba saja lenyap dari ruang memorinya. Sifat inilah yang paling ia benci dalam dirinya, pelupa.
            Gadis yang hobi menulis ini begitu lemah dengan daya ingatnya akan suatu obrolan dengan orang lain. Oleh karena itu, dia harus mencerna suatu informasi baru secara berulang-ulang supaya otaknya dapat menyerap informasi tersebut dengan baik. Lima menit telah berlalu. Gadis berambut sepunggung itu memperlihatkan bola matanya kembali. Ekspresinya masih sama dengan sebelumnya. Dia belum berhasil mengingatnya.

Flasback

            Seorang gadis yang biasa dipanggil Naya sedang asyik menonton acara talkshow di layar televisi. Tak berapa lama sebuah pertanyaan menginterupsi gadis bertubuh mungil itu dari keasyikkannya menatap benda elektronik berbentuk segiempat di hadapannya.

            “Nduk, katanya kamu bohong sama bu irma ya?”

Naya sontak tercenung mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan ayahnya

            “Bohong gimana pak?”

Naya justru bertanya balik pada ayahnya. Wajahnya menyiratkan sebuah tanda tanya besar yang telah melekat dengan sempurna.

            “Memangnya kamu ngomong apa sama bu Irma?”

Tanya pria paruh baya yang duduk tak jauh dari Naya.

            “Aku gak bilang apa-apa kok. Malahan dari kemarin aku gak pernah smsan sama bu Irma”

Jawab Naya dengan ekspresi yang terlihat berpikir. Sepertinya mencoba mengingat sesuatu.

            "Pas kamu ke rumahnya bu Irma dua minggu yang lalu, kamu ngomong apa aja?”

Tanya Naya untuk yang ketiga kalinya.

            “Seimgatku malah kebanyakan ngomongin masalah kuliahnya kakak” jawab Naya dengan bimbang. Seperti ada sesuatu yang ia lupakan. Tetapi ia sendiri tidak tahu apa.

            “Oh ya, terus katanya aku harus nurut sama dosen biar gak kayak kak Devi” tamabah naya kemudian.

            “Bener Cuma itu? Apa kamu lupa kali?” tuduh sang ayah dengan nada bercanda seperti biasa. Naya hanya diam. Tak lagi membalas pertanyaan sang ayah. Dia terlihat berpikir keras.

            “Apa aku melupakan sesuatu ya? Tapi apa? Kenapa aku tak bisa mengingatnya sama sekali?”

gumam Naya di dalam lubuk hatinya.

Flashback End

            Naya memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada bu Irma supaya sedikit mengurangi rasa bersalahnya.

       “Bu, aku minta maaf. Aku gakbilang kalo aku udah pulang. Aku bener2 lupa bu.  Aku minta maaf bu. Aku bener2 lupa”
Sent. . . .

Setelah sepuluh menit Naya menunggu dengan gelisah ternyata delivered report pesan bu Irma baru muncul. Selang beberapa detik sebuah pesan dari bu Irma memasuki inbox ponselnya.

“Iya gak papa nduk. Tadi kamu dimarahi bapak gak?”

“Gak kok bu” Sent...

Naya POV
            Sampai saat ini aku masih memikirkannya. Sebenarnya apa ya janjiku kepada bu Irma. Kenapa secuilpun tak ada yang berhasil aku ingat. Aku hanya  menghela napas. Sebegitu pelupakah aku? Aku sungguh merasa bersalah sama bu Irma. Hanya untaian maaf yang dapat aku sampaikan. Bu Irma, maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud mengingkari ucapan ku sendiri. Aku hanya belum mampu menemukan kepingan memori yang hilang itu. Sekali lagi aku minta maaf bu.


THE END

Jumat, 03 Januari 2014

Dream Message - Cerpen My Creation



 Dream Message

            Alena tampak tak menikmati sarapannya pagi ini. Hal itu terlihat jelas dari sorotan mata bening yang dimilikinya. Meskipun mulutnya kini tengah terisi sesendok bubur ayam yang dibelinya dari bang Sulam tadi pagi namun pandangannya mengarah ke jendela  yang letaknya memang  berada tepat di hadapan Alena. Pandangannya tak beralih sedari tadi. Zaki sang kakak Alena pun bisa langsung menyimpulkan kalau adiknya kini sedang melamun. Dia mencoba meletakkan tangannya ke  depan wajah adiknya lalu menggoyang-goyangkannya. Berharap adiknya bisa tersadar dari lamunannya.

“Len..! Cepet abisin buburnya!!” perintah Zaki dan tentu saja mengagetkan Alena yang saat itu  memang sedang tidak fokus.
“Oh. Iya kak!” jawab Alena setelah tersadar kembali sambil segera melahap buburnya agar bisa habis secepatnya.
“Eh Len, kamu ngelamunin apaan sih? Pagi- pagi gini udah ngelamun, nanti kalau kesambet gimana? Kesambet hantu penunggu pohon kedondongnya bang Hadi Hiii..hiii” ujar Zaki dengan ekspresi yang dibuat seolah olah ketakutan melihat hantu,
Ishh.. apaan sih kak. Lagian siapa yang ngelamun? Tadi Lena Cuma mikirin Ayah. kapan ya dia pulang ke semarang” jawab Alena asal.
“Alaaah gak usah bohong deh sama kakak. Kamu jangan coba ngalihin pemicaraan deh. Kamu pasti lagi mikirin Dion kan?” DEGG!! mendengar tebakan Zaki barusan  membuat Alena langsung  terdiam tak menanggapi pertanyaan cowok yang menjadi kakaknya selama ini. Ia pun tak bisa mengelak lagi. Kakaknya ini kadang bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Alena hanya menunduk, menyembunyikan butiran bening yang  mencoba menerobos kelopak matanya.

“Udah deh, jangan dipikirin terus nanti kamu malah jadi sakit lagi. Cowok kayak dia itu gak pantes buat kamu tangisin. Kakak yakin di luar sana masih banyak cowok baik yang bisa ngelindungin kamu. Udah yuk berangkat!!”  Zaki mengelus pelan rambut adiknya untuk sedikit menenangkan hatinya kemudian berlalu meninggalkan Alena untuk menyiapkan motor.  Alena sedikit lega mendengar ucapan kakaknya. Ia merasa beruntung memiliki sosok kakak yang selalu menyayangi dan memperhatikannya. Seulas senyum pun menghiasi bibir tipisnya. Memang akhir-akhir ini bayangan Dion selalu menghantui pikiran Alena. Semenjak dua minggu yang lalu Dion dengan seenaknya memutuskan hubungan mereka secara sepihak, melalui sms pula terlebih tanpa ada alasan yang jelas, padahal sebelumnya dia tak pernah memberikan kabar sedikitpun. Alena tentunya merasa kecewa. Sampai sekarang pun dia masih belum menerima kenyataan yang menurutnya pahit itu.  Lalu Alena segera  bergegas membereskan semua piring kotor bekas sarapan mereka lalu menyusul sang kakak yang sudah nangkring di atas motor sambil sesekali membunyikan klakson sebagai tanda buat Alena agar mempercepat geraknya.

Alena POV

Piimm..Pimm..Ppiimmmm!!!”
Aiisshh.. baru sebentar sifat baiknya nya aku kagumi ehhh sifat tidak sabarannya langsung muncul.

“Lena,, cepetan dikit donk!! Nanti aku bisa telat nih!!” Aku pun hanya menggerutu kesal.
“iyaa.. iyaa.. sabar dong kak. Ini Lena mau ngunci pintu dulu” sahutku kesal.
^_^ DERITA CINTA ^_^

Dulu kau yang memulai
Dan kini kau yang mengakhiri
Dulu kau ucapkan CINTA
Kini kau sendiri yang mengingkarinya
Percikan bara api
Kini kau bakarkan ke relung hati
Mungkinkah Cinta itu kan berada di hati ini
Entahlah…
Hanya waktu yang mampu menjawab semua


“Teett.. teettt.. Teettt!!!”
Aku menghela nafas. Akhirnya aku terbebas juga dari pelajaran Sejarah yang membosankan. Bagaimana tidak bosan? Setiap kali Pak Sutejo masuk kekelas dan mengajar kami semua, beliau selalu saja menjelaskan materi secara terus menerus tiada henti tanpa jeda dan berulang-ulang. Bahkan materi yang minggu lalu ia ajarkan kadang di ulas kembali tanpa kenal lelah oleh guru yang sudah berusia setengah abad ini. Sampai sampai  tak ada satupun murid pun yang berniat mendengarkan penjelasannya saking bosannya. Tapi aku kagum dengan semangat mengajarnya itu. Meskipun aku tahu, kalau pak Sutejo sebenarnya menyadari kalau dirinya tidak di perhatikan oleh semua siswa tetapi beliau tetap menjalankan tugasnya sebagai guru dengan baik. Saluutt deh buat Pak Sutejo.

“Len, ke tempat biasa yuk!” ajak Melly ^_^ sahabat ku sejak kelas sepuluh di sekolah ini sekaligus rekan satu bangku. Kebetulan di kelas sebelas ini kami bisa satu kelas lagi ^_^ yang secara tidak langsung menghentikan pernyataan kagumku kepada pak Sutejo.
“Yukk” aku pun mengiyakan ajakan Melly dan segera mengikutinya. Seperti biasa kami berdua (aku dan Melly) dan satu lagi Desti (sahabatku yang lain. Sama seperti Melly, dulu waktu kelas sepuluh satu kelas, hanya saja sekarang kita berbeda kelas) sudah menunggu di tempat favorit kami.

“Ehh.. tuh si Desti” seru ku sambil berjalan menghampirinya. Akhirnya aku dan Melly sampai juga di sebuah taman kecil yang kita bertiga sebut ‘taman rahasia’. Tempat ini terletak di belakang perpustakaan. Letaknya memang  tersembunyi sehingga tak ada siswa lain yang mengetahui taman ini kecuali kita bertiga dan tempat ini bisa dibilang markas berkumpul favorit kita. Biasanya pada jam istirahat kita menghabiskan bekal yang kita bawa disini. Dan hari ini ternyata aku lupa tidak membawa bekal. Padahal semalam sudah aku persiapkan. Ini semua gara-gara kakak tadi pagi yang seenaknya menyuruh aku cepat-cepat.

“Al, kamu gak bawa bekal?” Tanya Desti yang sudah bersiap menyuapkan mie gorengnya ke dalam mulut.

Iya, maaf yah temen-temen. Soalnya tadi kak Zaki nyuruh aku cepet-cepet jadinya lupa deh” ucapku sedikit menyesal sambil nyengir. Aku jadi merasa tidak enak pada mereka.

Jadi kamu beneran gak bawa Al?” Giliran Melly yang bertanya. Kali ini di sertai tatapan yang tajam.

Maafin aku ya Mell, Des” aku pun menunduk. Aku tidak berani secarara langsung menatap mereka.

“Tapi kan kamu udah janji sama kita. Berarti kamu udah bohongin kita berdua Al. aku gak nyangka kamu bisa setega itu sama kita berdua. Padahal kamu sendiri yang nyuruh kita bawa bekal hari ini, tapi kamu sendiri juga yang malah gak bawa” ucap Melly panjang lebar, sepertinya lebih tepatnya membentak.

Aku kan udah minta maaf Mel. Lagian kamu kok jadi marah kayak gini. Kamu jangan nuduh aku bohongin kalian dong. Aku beneran  gak sengaja” tegas ku tidak mau kalah.

Haahhaa..haa toos Des..!” tiba-tiba aku mendengar Melly tertawa di susul Desti yang hanya tersenyum senyum.

Kalian ngerjain aku ya!” Tanya ku melihat tingkah mereka dengan kesal.
Kamu lucu Al kalau kayak tadi. Haahaa … Kita berdua Cuma bercanda kok. Lagian mana mungkin kita marah gara-gara hal yang sepele. Iya gak Des?” Jelas Melly.

Iya Al, tenang aja meskipun kamu gak bawa bekal kamu kan bisa makan punya kita berdua. Yuk buruan makan nanti keburu waktu istirahat habis lagi” kata Desti menambahkan.

Alena POV End

Sahabat adalah mereka yang membantuku
Bangkit untuk kembali percaya diri
Saat orang lain berusaha menjatuhkan dan meremehkanku
Sahabat bukan hanya seseorang yang ada di samping kita
Melainkan seseorang yang pertama kali
Memberikan pundaknya untuk kita
di kala hati sedang terluka
Dan seseorang yang pertama kali tersenyum bahagia
Saat melihat kita tertawa
Meskipun kita belum menghampirinya..

Normal POV
Jarum jam di kelas XI IPS 2 baru menunjukan pukul 12.30 siang. Semua siswa di kelas sibuk sendiri-sendiri sambil menunggu guru piket datang. Tak berapa lama seorang guru memasuki kelas mereka. Semua anak termasuk Alena memandangnya heran karena bukan bu Nadia guru yang mengajar Geografi.

Anak-anak, hari ini bu Nadia tidak dapat hadir” sontak semua anak bersorak kegirangan membuat suasana seisi kelas menjadi gaduh.

Tenang..tenang.. Bapak belum selesai bicara.” Semua anak pun kembali terdiam seperti semula.

“Bu Nadia memberi pesan, kalian di suruh mengerjakan tugas di LKS halaman 28 yang Essay. Dikerjakan tiap kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Nanti di kumpulkan.” Lanjutnya panjang lebar yang sukses membuat semua anak tak bersemangat. Setelah menyerahkan selembar kertas yang berisi surat perintah dari bu Nadia kepada Aldi sang ketua kelas,  pak Budi pun segera meninggalkan kelas.

Kenapa sih bu Nadia pake acara ngasih tugas segala? Kalau gak masuk, ya gak masuk aja. Ngapain ngasih tugas sih. Merepotkan!!” gerutu Melly, sepertinya dia tidak rela waktu santainya terganggu oleh tugas.

Udah deh, kalau kayak gitu kamu tuh mirip sama Shikamaru tahu gak” kata Alena.
“Shikamaru?? Siapa tuh??” Tanya Melly bingung.
“Tukang bakso yang suka lewat depan rumah. . . lupain deh. Oh ya Mell anterin gue ke toilet yuk” ajak Alena, lalu mereka meminta izin dulu pada Aldi. Di tengah perjalanan menuju toilet mereka selalu saja megobrol seesekali canda tawa menyelingi obrolan mereka, hingga mereka tak menyadari seseorang berjalan mendekati mereka dengan setumpuk buku di tangannya. Dan akhirnya…. “BRuugggHH!!” tabrakan pun tak bisa dihindari. Lalu dengan segera Alena dan Melly membantu membereskan buku yang dibawa orang yang mereka tabrak.

Kita minta maaf ya” kata Melly menyerahkan sebagian bukunya kepada cowok dihadapannya itu. Alena segera berdiri menyusul Melly dan memberikan sebagian bukunya lagi.

Aku juga minta ma…af ya” Alena sedikit terkejut melihat sosok di depan matanya ini. sesekali ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Seolah olah dia sedang bermimpi, tapi sayangnya dia  masih berada di dunia nyata. Melly pun baru menyadari kalau ternyata muka cowok itu mirip dengan seseorang, tapi siapa ya?. Alena masih mematung dan  Selang beberapa detik ia kehilangan kesadarannya.

Tak Bisa Ku lupa. . . .
Saat saat indah bersamamu
Semua cerita mungkin kini hanya tinggal kenangan
Kenangan yang tak terlupakan
Dimana ada canda, tawa, tangis, bahagia
Selalu ada dalam kisah kita
Tak pernah terlupakan masa masa yang indah
Yang pernah kita lalui bersama
Semuanya masih membekas jelas
Tak ada secuil kisah pun yang terguras

Alena POV
Seberkas sinar perlahan-lahan memasuki rongga mataku. Aku membuka mataku perlahan lahan, namun aku kembali menutup kelopak mataku karena mata ku belum terbiasa dengan cahaya yang begitu terang. Lalu aku pun mencoba membuka mataku lagi. Kali ini aku bisa melihat tempat di sekitarku dengan jelas. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Sepertinya aku mengenali ruangan ini. Sedikit demi sedikit kesadaranku mulai terkumpul. Heyy.. bukankah ini kamarku? Lalu aku bangkit dari posisi tidurku, Kurasakan kepalaku masih terasa pusing. Kulihat jam weker Hello Kitty menunjukan pukul 16.25. Tak berapa lama pintu kamar terbuka. Kulihat sesosok cowok yang usianya 4 tahun lebih tua dariku berdiri di ambang pintu.
Kamu udah sadar Len?” kak Zaki melangkah mendekati ku dan duduk di pinggir kasur.
Udah merasa lebih baik?” Tanya kak Zaki. Aku hanya merespon pertanyaannya dengan anggukan.

Ya udah deh, kalau kamu laper, kakak udah nyiapin makanan di meja. Tapi kalau kamu masih pusing istirahat aja dulu. Kamu jangan mikirin dia terus ya” sambil mengelus rambutku dengan lembut. Lalu kak Zaki bersiap meninggalkan kamarku.

Kak.. tunggu!!”cegatku segera. Lalu kak Zaki mengurungkan niatnya.
Siapa yang bawa aku pulang kak?”. Kak Zaki tak langsung menjawab. Aku merasa sikap kak Zaki mendadak aneh. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Emmhh.. yang bawa kamu pulang…Melly sama….”
Sama siapa kak?” Tanya ku tidak sabar. Kak Zaki terdiam. Dia seperti ragu mengatakannya.

“Dafa, Eeeh kakak mau pergi dulu. Ada tugas di rumah temen. Kamu istirahat aja ya” ku pandangi punggung kak Zaki yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu. Aku sedikit asing mendengar nama yang barusan kak Zaki sebut. Seingatku aku tidak mempunyai teman bernama Dafa. Tapi siapa cowok tadi siang? Mengapa wajahnya begitu mirip dengan Dion?


Flashback
Hari ini adalah kencan pertama ku dengan Dion sekaligus hari terakhir ku di Yogyakarta dalam rangka liburan rutin mengunjungi nenek. ^_^ catatan : hampir setiap liburan Alena mengunjungi neneknya bersama Zaki dan ayahnya. Ibunya sudah meninggal waktu Alena masih kecil. Neneknya sudah Alena anggap seperti ibunya sendiri. Alena mengenal Dion juga karena neneknya. Waktu itu Dafa belum kembali dari Singapura sehingga Alena belum mengenal Dafa ^_^ Aku merasa senang sekali. Saking senangnya aku malahan datang ke tempat janjian kami _FairyLia Park_ 1 jam lebih awal dari waktu yang di janjikan. Jika orang lain menjadi aku mereka pasti akan berfikir yang ku lakukan ini adalah hal yang konyol. Namun aku melakukan itu semua supaya aku tidak terlambat di acara spesial ku kali ini. aku tidak mau membuat Dion kecewa. Setelah memasuki taman aku pun segera berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di taman ini sekalian menghabiskan waktu yang masih lama. Dari kejauhan kulihat seorang cowok, sepintas wajahnya mirip dengan Dion. Tetapi aku tidak yakin dia itu Dion. Lalu aku berniat melanjutkan langkahku kembali namun ku urungkan niatku karena tiba-tiba pandangan ku menjadi gelap. Sepertinya ada seseorang yang sengaja mentup kedua mataku.

Ayo tebak?” suara cowok di belakangku. Aku juga begitu familiar dengan suara ini. Seperti suara...

“…Dion” tebak ku. Lalu tangan kekar itu perlahan-lahan terlepas dari wajahku. Aku pun segera berbalik dan memastikan apakah tebakan ku benar.

Waaoow.. kamu hebat bisa mengenaliku. Ehh. kamu kok sudah ada disini, bukannya kita janjiannya jam 4 sore ya. Ini kan baru jam 3.15.”

Ee..ee..apa iya? Aku kira ini sudah jam 4 heehee. Ohh itu artinya jam di rumah udah  harus ganti batre ya ..heehee”  Aduhh.. aku terpaksa berbohong deh. Kalau aku bilang sejujurnya nanti dia malah kegeeran lagi, ya meskipun alasan yang aku berikan tidak masuk akal tapi sepertinya Dion mempercayainya.

“Kamu sendiri?” tanyaku dengan maksud mengalihkan topik pembicaraan.
“Ohh tadi aku lagi nemenin saudara yang baru pulang dari luar negeri kesini. Katanya dia pengen jalan-jalan, lalu aku gak sengaja lihat kamu, ya udah aku samperin. Oh ya kamu udah makan”.
Belum“ jawabku singkat, namun di dalam hati aku sedikit tertarik dengan orang yang dianggap saudara oleh Dion.
“Ya udah kita makan dulu yuk di sana” Dion menunjuk sebuah cafĂ© sederhana namun terlihat begitu nyaman. Tanpa pikir panjang aku pun menyetujui ajakannya sehingga rasa penasaran barusan memudar untuk sementara.

Alena POV End

RUANG RINDU ^_^
Saat malam tiba
Kau hangatkan aku dengan cintamu
Saat aku sedih
Kau tenangkan aku dengan kasih sayangmu
Jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku
Karena aku tak akan sanggup berjalan tanpa genggaman tanganmu
Yang beri aku kekuatan
Aku tak akan mampu singkirkan duka
Bila taka da pundakmu tempat aku bersandar

Normal POV

Seperti hari-hari biasanya Alena berangkat sekolah dengan sang kakak. Setelah sampai di depan gerbang Alena bergegas turun lalu segera menuju ke kelas nya. Untuk sampai di kelasnya yang memang terletak di lantai dua dia memang diharuskan melewati koridor sekolah. Namun koridor yang biasanya di lalui banyak siswa kali ini suasananya terlihat begitu lengang. Hanya terlihat beberapa siswa yang berlalu lalang. Dengan begitu Alena bisa leluasa berjalan santai karena dia bisa terbebas dari pandangan siswa lain yang selalu sukses membuat dirinya risih. Gadis ini memang punya kebiasaan yang aneh. Dia paling tidak suka berjalan di tengah keramaian dalam artian menjadi tontonan orang banyak saat dirinya sedang melewati mereka. Karena kebiasaannya itu setiap pulang sekolah Alena baru mau keluar dari kelasnya setelah Melly memastikan semua anak sudah pulang. Di hadapannya ada tiga jalur yang menanti, jalur ke kanan akan mengarah ke deretan kelas X. Lalu jalur yang lurus jika dilalui akan membawanya ke area laboratorium, perpustakaan, dan semua fasilitas penunjang sekolah. Sementara jalur di sebelah kiri adalah tujuan Alena saat ini karena disana ada sebuah anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua, tempat kelasnya berada. Namun Alena mengurungkan niatnya, karena ada seorang cowok yang menghadang jalannya. Hal itu tentu saja membuatnya kesal.
‘ini orang ngapain sih. Berdiri sembarangan di depan tangga, aku kan mau lewat.’ Gerutu Alena di dalam hati.

“Permisi, aku mau lewat tangga ini. Bisakah kamu minggir!” pintanya dengan baik-baik. Tetapi cowok yang menghadang Alena tidak menoleh sama sekali, justru dia malah membenarkan letak topinya seolah-olah dia tidak mendengar perintah Alena barusan.

“Aku tuh mau lewat tangga ini!! Kamu bisa minggir gak!!” kali ini Alena sedikit meninggikan ucapannya, meskipun masih terdengar sama dari sebelumnya. Lalu cowok itu membalikkan badannya yang semula memang membelakangi Alena. Kepala cowok itu menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik topi coklat yang ia kenakan. Alena menjadi semakin penasaran dengan cowok ini. Perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya, Alena pun sebenarnya penasaran dengan cowok dibalik topi itu. Seketika Alena tercengang melihat wajahnya. ‘Dia kan?’. Cowok bertopi tadi kaget melihat Alena pingsan (lagi) di hadapannya. Cowok yang ternyata bernama Dafa ini menghadang Alena dengan maksud meminta maaf karena sudah membuatnya pingsan kemarin, tapi mengapa kejadian kemarin malahan terulang kembali?. Ia pun segera membawa Alena ke Klinik sekolah.

Apa yang kau pikirkan saat mendengar kata “MANTAN”?
Kebenciankah ??
Penyesalankah ??
Jangan! Jangan sekali-kali engkau katakan benci….
Karena kamu pernah mengenalnya
Dan jangan katakan menyesal
Karena kamu pernah memilikinya
Katakanlah aku bersyukur pernah mengenalmu
Karena engkau telah mengajariku bagaimana mencintai
Dan bagaimana mengikhlaskan
Saat engkau telah pergi meninggalkan ku
Dan engkau memberikan pelajaran
Bagaimana cara untuk tidak salah memilih lagi
Bukan Tuhan tidak sayang dengan kita
Melainkan Tuhan telah menuliskan cerita yang lebih indah untuk kita

***
Melly dan Desti baru saja memasuki Klinik. Mereka bermaksud menjenguk sahabatnya. Lalu mereka duduk di tepi ranjang dimana Alena masih berbaring.

Aku sedih ngelihat Alena kayak gini” kata Desti sedih melihat sahabatnya tergolek lemas.

“Iya, dasar Dion tuh cowok gak tahu diri. Padahal Alena kan cinta banget sama dia. Tapi si Dion malah memanfaatin Alen. Huuuhh..!! Kalo aja aku ketemu orangnya langsung bakal aku bejek bejek. Hheerrghh!!” kata melly kesel sambil mengepalkan kedua tangannya saking marahnya.

“Oh ya Mell, tapi si Dafa wajahnya kok bisa mirip ya sama Dion. Apa dia memang kembarannya Dion??”

“Iya sih, tapi Alena pernah bilang kalau Dion itu gak punya saudara kem..”ucapan Melly terputus karena melihat Alena yang sudah kembali sadar

“..Eh, Al kamu udah sadar?” Tanya Melly sedikit terkejut melihat kesadaran sahabatnya.
“Aku lagi dimana?” Tanya Alena dengan lirih.
“Kamu lagi di klinik Al. lagian kalau kamu masih gak enak badan mendingan kamu izin pulang aja” tegur Melly.

“Gak usah Mell, aku udah baikan kok. Aku mau ke kelas aja” Alena mencoba bangkit dari tidurnya. Dia berusaha turun dari ranjang untuk berdiri tetapi karena terlalu lama pingsan, Alena merasakan kepalanya masih pusing. Akibatnya dia hampir terjatuh lagi ke ranjang. Untung Desti langsung menahannya.

“Tuh kan Al, kamu belum pulih. Bener kata Melly. Lebih baik kamu izin pulang aja, ya” Desti yang sedari tadi diam juga ikut menyetujui usulan Melly.

Udah gak papa kok. Lagian aku cuma sedikit pusing. Palingan nanti juga hilang sendiri” tolak Alena dengan halus, Gadis ini memang keras kepala. Akhirnya Melly dan Desti menuruti kemauan sahabatnya, lalu mereka menuntun Alena menuju ke kelas.
Sudah hampir satu bulan ini Dafa memperhatikan, bukan lebih tepatnya sih mengawasi gerak gerik Alena. Dia sendiri sebenarnya merasa risih dan bosan melakukan itu semua. Bayangkan saja setiap di sekolah dia harus mencari informasi tentang keadaan Alena dari teman sekelasnya yang Dafa kenal. Kadang-kadang Dafa juga mengikuti kemanapun Alena pergi tanpa diketahui oleh gadis itu. Dan sampai sekarang sang korban belum menyadarinya. Hebat bukan, Dafa ternyata berbakat jadi agen rahasia ya… haahha. Tapi meskipun begitu dia tetap melakoninya karena dia sudah terlanjur berjanji dengan Dion.

Flashback

Malam itu Dafa dan Dion sedang asyik bermain game bersama. Mungkin sudah empat kali mereka berganti permainan. Dion berhasil menang dua kali atas Dafa, Begitupun sebaliknya Dafa mengalahkan Dion dua kali juga. Artinya mereka berdua sama kuat. Lalu mereka sepakat bermain satu kali lagi untuk menentukan siapa yang terkuat diantara mereka. Jadi siapapun yang akan memenangkan permainan kali ini dia berhak mengajukan permintaan yang nantinya harus dipenuhi oleh pihak yang kalah.

Kalau nanti aku menang, kamu harus jadi asisten pribadi ku selama seminggu” Dafa mulai memberitahukan permintaannya.

Merepotkan!!” Dion mengeluarkan seringai tipisnya.
 “Tapi sebaliknya, jika aku yang menang. Kamu harus bersedia menjadi agen rahasia” lanjutnya. Dahi Dafa sedikit berkerut.

Maksudnya??” Tanya Dafa yang memang belum mengerti.
Seminggu lagi aku kan pergi ke Singapura. Selama aku pergi aku pengen kamu mengawasi Alena secara diam diam dan menyampaikan semuanya pada ku.”

Apa!!? Tapi..” Tanya Dafa sedikit kaget.
“Udah deh, kita langsung main sekarang.!!” Potong Dion yang langsung membuat Dafa fokus ke dalam permainan. 35 menit telah berlalu. Akhirnya Dafa harus mengakui kemenangan Dion. Itu artinya dia harus siap menjadi Agen Rahasia untuk saudara kembarnya ini.

“Minggu depan kamu akan pindah ke rumah tante Arita kan? Nah untuk itu aku minta tolong sama kamu, sekali ini aja. Jaga dan awasi Alena buat aku ya Daf. Satu lagi, jangan pernah bilang kalau kamu adalah saudara kembar Dion ataupun kamu kenal sama Dion.” Pinta Dion.

“Kenapa?”
“Kamu tidak perlu tahu alasannya. Yang jelas kali ini aku beneran minta tolong sama kamu. Anggap aja ini adalah permintaan terakhir ku..”
‘DEEGGG’ Seketika Dafa merasakan hal yang aneh dari kalimat Dion barusan…

“Baiklah aku setuju” jawab Dafa sambil tersenyum.

Flashback End

Di tempat lain Alena tidak mampu memejamkan matanya padahal malam sudah semakin larut. Seperti malam malam sebelumnya dia masih teringat dengan Dion. Di satu sisi entah kenapa hatinya masih mengharapkan kehadiran Dion, dia seolah olah merasakan sesuatu hal terjadi pada Dion dan itu yang  membuat dirinya memutuskan hubungan mereka. Sementara di sisi lain hatinya merasakan goresan luka yang amat pedih dan sampai saat ini belum sembuh juga akibat perbuatannya.

Alena POV

Aku berada di sebuah tempat asing. Tempat apa ini. mengapa semuanya putih.
“Halo! Permisi !! Apakah ada orang??” tanyaku entah kepada siapa. Tetapi kelihatannya tak ada orang disini. Lalu aku memberanikan diri untuk berjalan meskipun itu pelan pelan, karena aku masih merasa takut. Tiba-tiba di hadapanku mucul cahaya yang menyilaukan. Akupun segera menutup mataku karena silau. Setelah sinar kembali normal aku pun membuka mata. Di hadapanku Dion tersenyum. Aku sedikit kaget dengan kehadirannya. Dari mana dia datang?.

            “Hai Len. Gimana kabar kamu. Semoga baik ya. Oh ya, aku pengen minta maaf karena sudah buat kamu sedih. Pasti kamu kecewa kan?. Aku mohon kamu jangan marah sama aku ya. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu Len. Malahan sebaliknya aku pengen ngelihat kamu bahagia. Mulai sekarang kamu tidak usah mengingat ku lagi. Ikhlaskan aku buat pergi ya Len. Aku yakin Dafa pasti bisa buat kamu lebih bahagia.. . . “lalu perlahan lahan sosok Dion mulai lenyap. Tidak,,, jangan pergi. Dion jangan tinggalin aku..!!!. tiba-tiba air mataku menganak sungai membasahi wajahku ketika aku terbangun.
            Huuh!! Ternyata cuma mimpi. Tapi, apa maksud mimpiku barusan? Kenapa aku nangis beneran ya?”
           
Alena POV End

^_^  ^_^  ^_^  ^_^  ^_^  ^_^  ^_^
Di tempat yang berbeda Dafa mengalami mimpi yang sama dengan Alena.

Hai Daf.. Gimana kabar kamu selama tinggal di rumah tante Arita?. Semoga baik ya. Oh ya, perlu kamu ketahui, ada tiga alasan yang buat aku berada disini sekarang. Pertama aku pengen minta maaf karena selama ini aku udah nyusahin kamu, sering buat kamu kesel, kadang kamu ngalah demi aku, pokoknya apapun yang udah aku perbuat sama kamu, . Tolong kamu maafin ya. . Lalu yang kedua, aku mau ngucapin terima kasih  Daf.. karena selama ini kamu sudah menjadi saudara yang baik dan kamu juga mau mengabulkan permintaan ku untuk menjadi Agen Rahasia buat Alena, aku tahu sebenernya kamu suka kan sama Alena semenjak kamu melihatnya di FairyLia Park? . Karena itu aku berusaha agar Alena tidak bisa bertemu dengan mu selama di Yogyakarta. Ketiga aku mau minta izin. Sebentar lagi aku mau pergi. Tolong bilangin sama mama dan papa ya. Oh ya Sebelum aku pergi jauh aku pengen kamu janji satu hal, kamu mau kan jaga Alena buat aku? Aku yakin Alena bisa lebih bahagia di sisi kamu”
Lalu perlahan lahan sosok Dion mulai lenyap.

“Jangan pergi. Dion..!!! Tungguu!! Kamu mau kemana?? Diooonnnn!!!” Dafa terbangun dari tidurnya. Karena teriakannya barusan tante Arita datang.

            Kamu kenapa fa? Mimpi lagi” Dafa terlihat masih terengah engah.
            Iya tante. Mimpi itu sama seperti dua hari yang lalu. Malahan di mimpi ini Dion bilang, dia mau pergi jauh ninggalin kita.

Pagi ini Dafa sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengungkapkan semuanya kepada Alena. Dia tidak peduli Alena mau pingsan seratus kali pun, ia akan tetap menunggunya sampai dia sadar. Kebetulan pagi ini keberuntungan sedang ada di pihaknya. Dia melihat Alena dari kejauhan, Lalu Dafa pun segera menyusulnya.

“Alena tunggu!!” teriak Dafa sambil berlari menghampiri cewek berambut kecoklatan itu. Dan seperti biasa Alena hampir pingsan lagi. ^_^ perlu di garis bawahi, hampir pingsan lagi, itu artinya belum terjadi ^_^.

“Al, plis tolong sekali ini aja kamu jangan pingsan lagi. Kayaknya kamu hobi banget pingsan setiap kali aku berusaha mendekati kamu. Memang mukaku nyereminya?” ujar Dafa heran.

Maaf, aku harus pergi” Alena berusaha pergi meninggalkan Dafa namun niatnya sudah di ketahui sehinggan Dafa berhasil mencegatnya.

Ikut aku sekarang!!” pinta Dafa yang bisa dibilang sedikit memaksa. Awalnya Alena sempat memberontak, namun karena tenaga Dafa lebih besar, ia pun hanya bisa manut mengikutinya. Dia sendiri masih bingung kemana cowok ini akan membawanya. Alena merasakan hal yang aneh, Mengapa dia sepertinya mengenali jalan ini??
‘bukannya ini jalan menuju taman rahasia?’ terkanya itupun di dalam hati. Dan dugaannya memang benar.

Ke-napa kamu bi-sa tahu tempat ini?” Tanya Alena dengan gugup. Padahal tidak biasanya dia seperti ini.
Aku akan menjelaskan itu nanti. Yang  jelas ada hal yang lebih penting yang harus kamu ketahui sekarang” jawab Dafa yang tentunya belum memuaskan bagi Alena.

Maksudnya??”
“Oke,, kamu dengerin baik-baik, ini berhubungan dengan --- “ Dafa tampak menghembuskan nafas sejenak (jeda sebentar) “DION.”, lanjutnya. Tanpa di duga sebelumnya ternyata Melly dan Desti mengikuti mereka. Dua gadis tersebut ikut bergabung bersama mereka dan hampir saja menghajar Dafa, beruntung Alena segera memisahkan mereka.

Udah, udah… cukup” lerai Alena pada kedua sahabatnya.
“Tapi Al. dia pasti punya niat jahat sama kamu.” Tuduh Melly yang masih emosi.
“Mell.. tenang Mell tenang. Dia bawa aku kesini cuma bermaksud memberitahuku sesuatu. Aku mohon, kamu tenang ya..! Aku gak papa kok. Lagian aku penasaran dengan apa yang akan dia katakan” pandangan Alena yang semula ke Melly kini beralih kembali pada Dafa.

Baiklah, tapi kamu harus janji, jangan membuka suara sebelum aku selesai bicara.” Ujar Dafa memperingatkan.

Iya”

Dafa pun memulai penjelasannya :

“Sebenarnya aku tuh . . . . Saudara kembar Dion”
Mendengar pernyataan Dafa barusan, ketiga gadis di hadapannya membelalakan mata pertanda terkejut. Melly kembali tak bisa mengontrol amarahnya, tetapi Alena dan Desti berusaha menenangkannya dan akhirnya berhasil meskipun sedikit. Lalu Dafa melanjutkan penjelasannya

Sekarang Dion berada di Singapura buat sekolah disana. Dia memintaku buat mengawasi kamu selama dia disana dan melaporkannya. Dia itu tidak ingin kamu berharap lebih padanya, makanya dia mutusin kamu. Katanya dia pengen fokus dulu dengan masa depannya. Tapi kenyataannya dia tidak bisa melupakan kamu Al… aku merasakan, sesuatu akan terjadi dengan Dion. Soalnya dia pernah bilang :

Minggu depan kamu akan pindah ke rumah tante Arita kan? Nah untuk itu aku minta tolong sama kamu, sekali ini… aja. Jaga dan awasi Alena buat aku. Satu lagi, jangan pernah bilang kalau kamu adalah saudara kembar Dion ataupun kamu kenal sama Dion.” Pinta Dion.

“Kenapa?”
Kamu tidak perlu tahu alasannya. Yang jelas kali ini aku beneran minta tolong sama kamu. Anggap aja ini adalah permintaan terakhir ku..”

“Sebenarnya Dion melarangku memberitahu hal ini, tapi aku gak bisa kayak gini terus, aku kasihan sama dia. Tolong Al, kamu maafin Dion ya. Soalnya semalam aku bermimpi. Dalam mimpi itu Dion datang menemuiku. Dia bilang dia mau pergi jauh. Dan aku sudah dua kali memimpikan hal yang sama” jelas Dafa panjang lebar.
‘mengapa semalam aku mimpi seperti itu juga ya?’ ucap Alena di dalam hati ‘Perasaan ku jadi tidak enak. . . .’ Tiba-tiba ponsel Dafa berbunyi, dia segera menjawab panggilan itu.

Ya halo.”
Aku masih di sekolah, tante kenapa? Kok kayak abis nangis??” Tanya Dion pada orang di seberang dengan nada khawatir.
“Dion!! Kenapa dengan Dion tante?” mendengar ucapan Dafa barusan Alena pun langsung mendekatinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, begitu juga dengan Melly dan Desti.

“Apaa!! Kecelakaan!! Gak mungkin.. tante bercanda kan?” Dafa langsung  jatuh terduduk. Dia tidak mampu berbicara lagi. Sementara Alena juga terkejut mendengar berita buruk itu secara langsung. Kali ini dia mampu mengontrol kesadarannya sehingga tidak pingsan. Lalu dia segera mengambil alih ponsel dari Dafa.

“Halo tante, ini Alena temannya Dion. Dion kenapa tante?”
Baik tante. Kami usahakan besok datang ke Yogyakarta buat mengantarkan Dion ke tempat peristirahatannya”

Makasih tante” Tuuuttt!. Alena menyerahkan kembali ponsel Dafa, lalu ia segera meninggalkan tempat itu.
^_^  ^_^  ^_^  ^_^  ^_^  ^_^  ^_^

Semua pelayat telah pergi meninggalkan area pemakama. Hanya segelintir orang yang masih betah singgah di tempat peristirahatan terakhir itu. Alena masih tetap disana bersama Dafa dan orang tua nya sekaligus orang tua Dion. Lalu bu Alice menghampiri Alena. Dia memberikan sebuah surat yang katanya  dari Dion. Alena pun segera membaca surat itu.

Jika matamu berat memandangku
Maka ringanlah kakimu tuk pergi dari ku
Jika bibirmu terpaksa senyum padaku
Maka relakanlah wajahmu tuk berpaling dari ku
Jika susah untuk kamu melupakan kesalahanku
Senangkanlah lidahmu untuk menghinaku
Tapi. . . .
Andai suatu hari nanti
Telingamu mendengar kematian ku
Maka datanglah untuk melihat jasad ku yang terakhir
Dan bisikkan ke telingaku bahwa kamu telah memaafkanku
Dan semoga kalimat terakhir itu menjadi pelita di kamar gelapku
Serta menjadi bantal selama akhir hidupku
                                                                                    Salam Cinta
                                                                                    Dion Alvian Pratama
1 tahun kemudian

“Dion, kita sudah penuhin permintaan kamu. Aku tahu, sekarang kamu pasti udah tenang di alam sana. Kamu bener Dion, Dafa memang cowok yang baik buat aku. Dia gak pernah sekalipun menyakiti aku. Bahkan sekarang kita udah tunangan. Aku harap kamu juga bahagia ya disana” ujar Alena seraya meletakkan sebuket bunga di atas makam orang yang pernah singgah di hatinya dulu.

“Iya Dion. Aku janji sama kamu, Alena akan aku jaga sampai akhir hidupku karena aku sangat mencintainya” ujar Dafa menambahkan.

“Ya udah Dion. Kita berdua pamit ya” kata Alena lalu mereka pergi meningglkan makam tersebut. Tanpa mereka sadari Dion muncul di pinggir makamnya dengan berpakain serba putih. Dia tersenyum melihat kepergian mereka. Selang beberapa detik  sosok itu perlahan lahan  menghilang.

THE END

kalau tersedia tinggalin komentarnya ya... :D