Senin, 30 Desember 2013

Little Star In The Sky 1


Fanfic S4

Title : Little Star In The Sky

Main Cast        : Alif Rizky     ( Alif )
                          Jefri Haris      ( Jeje )
                          Naira
                          Risty

Naira POV
            Udara pagi yang dingin mulai menyusup ke balik selimut yang membungkus tubuh mungilku. Aku pun menjadi enggan untuk beranjak dari ranjang ku yang hangat sekarang. Aku memang belum terbiasa dengan udara pagi yang begitu dingin seperti ini. Itu karena aku baru saja tidur di rumah ini untuk yang pertama kali. Rumah yang baru saja kami singgahi sejak kemarin siang. Rumah ini berada di daerah Bandung. Sebelumnya aku dan kakak ku tinggal di Tanggerang. Jadi, tidak heran kalau aku belum terbiasa dengan suhu dingin seperti yang aku rasakan di pagi ini. Tidak berapa lama jam beker pun berdering dengan nyaringnya. Itu artinya aku harus bangun karena hari ini aku akan memasuki sekolah baru. Aku tidak boleh terlambat.
            Aku menyeret kakiku untuk beranjak ke kamar mandi yang berada di luar kamar. Tepatnya berada di sebelah dapur. Setelah selesai mandi aku pun menuju ke ruang makan. Di atas meja sudah tersaji sepiring nasi goreng dan sebuah pesang singkat dalam secarik kertas berwarna biru.

     “Makan lah nasi goreng itu. Uang sakumu di meja dekat TV,”

Aku sudah hafal dengan kelakuan orang yang menulis pesan ini. Seperti itulah kebiasaannya setiap pagi. Dia jarang menyapaku. Apalagi menyapa, untuk bertemu dengannya setiap pagi saja sangatlah sulit. Dia selalu meninggalakan rumah pagi pagi sekali.
     “kak,“ gumam ku lirih. Dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Dia adalah kakak ku namanya Jefri Haris atau aku biasa memanggilnya Jeje. Aku menghela napas sejenak kemudian bangkit dari kursi tanpa menyentuh sedikit pun nasi goreng yang berada di depan ku. Mood ku sudah berantakan setelah membaca pesan tersebut.  Aku memutuskan untuk segera pergi ke sekolah.

Flashback... :)
Jeje POV
            Aku tebangun ketika sebuah panggilan berdering dari ponselku. Sebuah nama yang sudah tidak asing bagiku terlihat berkedip-kedip meminta jawaban dari sang pemilik ponsel. Aku segera meraih ponsel dan langsung menjawab panggilannya. Aku pun hanya bereaksi menganggukan kepala sambil sesekali mengatakan “iya” untuk merespon suara yang sedang aku dengarkan dari benda persegi empat yang aku tempelkan di dekat telinga. Dalam waktu tiga puluh detik panggilan tersebut telah diakhiri. Aku pun segera bergegas untuk membersihkan badan. Pekerjaan ku inilah yang menjadi alasan kepindahan kami ke kota ini. Aku terpaksa mengajak Rara ikut bersamaku karena aku tidak tenang meninggalkan dia sendiri. Dia adalah adik yang paling aku sayangi. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini. Sebenarnya aku ingin sarapan pagi bersamanya sekaligus mengantarkan dia ke sekolah barunya, namun itu tidak bisa aku lakukan untuk sekarang ini karena pekerjaan ku yang menuntutku untuk berangkat pagi-pagi. Meskipun begitu aku masih meluangkan waktu untuk sekedar membuatkannya sepiring nasi goreng dan menuliskan sebuah pesan singkat untuk malaikat mungil ku sebelum beranjak meninggalkan rumah.

Flashback End... :D

Alif POV
            Seperti biasanya bu Mira sudah memasuki kelas dengan tepat waktu. Aku heran dengan guru yang satu ini. Kenapa dia tidak pernah bosan ya? Hidupnya selalu penuh dengan agenda yang selalu dijalaninya dengan disiplin. Apalagi pelajaran yang dia ajarkan adalah matematika. Pelajaran yang saat SD dulu membuatku kalah dari seseorang. Dan sampai sekarangpun aku kurang menyukai pelajaran ini.
     “Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Naira, silahkan masuk!” ujar bu Mira.
Hari ini ada anak baru yang aku dengar dari bu Mira bernama Naira. Aku tidak tertarik sedikitpun dengan sorak teman-teman terutama para cowok yang terdengar antusias. Aku lebih memilih mencoret-coret buku dengan rangkaian kata untuk aku jadikan sebuah lirik lagu. Menurutku itu lebih menyenangkan.

Naira POV
     “Perkenalkan, nama saya Naira Almathania. Kalian bisa panggil saya, Naira. Saya pindahan dari Tanggerang. Terima kasih,” ujar ku memperkenalkan diri di depan kelas sambil menyunggingkan senyumku yang paling manis. Aku merasa semua anak tampak berbisik-bisik menanggapi perkenalan ku. Terutama para ceweknya. Berbagai reaksi yang berbeda aku tangkap dari tingkah mereka. Ada yang menyambutnya dengan antusias. Ada yang terlihat tidak suka dengan kedatanganku dan adapula yang tak menghiraukan ku. Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru kelas ini. Dan entah kenapa pandangan ku terhenti pada seorang cowok yang duduk di barisan dekat tembok bangku nomer dua dari belakang yang sedang asyik menulis di bukunya. Aku merasa pernah bertemu dengannya. Dia terlihat tidak asing di mata ku, tapi siapa ya?

       “Naira, silahkan kamu duduk di sebelah Risty,” perintah bu Mira.
       “Ahh, iya bu. Dimana?” sahutku yang sedikit terkejut.
       “Di sebelah Risty. Barisan dekat tembok meja nomer tiga,” Tegas Bu Mira.
      “Baik bu,” Aku pun segera menghampiri gadis yang bernama Risty. Menurutku dia cantik dengan bandana pink yang ia kenakan. Dia tersenyum ramah menyambutku untuk duduk disebelahnya. Aku beruntung bu Mira menyuruhku duduk dengan gadis ini. Sepertinya dia anak yang baik.

       “Tett..teett..teett...!!”
Bel istirahat pun berbunyi. Semua anak di kelas ku berhamburan keluar. Begitu pun dengan cowok yang duduk di belakangku. Sebenarnya aku berniat bicara padanya, tapi dia sudah terlebih dulu keluar bersama teman sebangkunya. Sepertinya ada urusan penting. Dari cara berjalannya dia terlihat tergesa-gesa.

       “Ayo Nai, kita ke kantin” ajak Risty dengan ramah.
Kebetulan aku belum sarapan tadi pagi jadi aku memutuskan untuk menyetujui ajakan Risty.
       “Iya, kebetulan cacing di perutku sudah mulai konser hehee” jawabku sambil bergurau.
       “Kamu tuh ada-ada aja,”
Lalu kami berdua menuju kantin. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan cowok yang duduk di belakangku. Aku sempat memperhatikannya sebelum akhirnya dia balik melihatku. Aku yang menyadari hal itu langsung mengalihkan pandanganku.

       “Emmhh Ris, nanti kita mau makan apa?” tanya ku untuk menyembunyikan rasa gugupku.
       “Disana nanti ada menunya kok. Kamu nanti tinggal pilih mau makan apa, nanti aku pesenin” jawab Risty.
       “Ohh, ya udah kalo gitu” sahut ku sedikit lega karena cowok itu sudah menjauh dari kami.

 To Be Continue...


Ditunggu ya lanjutnya. jangan bosen-bosen main kesini.
Salam Pena ^_^